Fenomena Gen FM

December 14, 2007

Luar biasa! 

Rasanya itu kata yang tepat untuk menggambarkan kemunculan Gen FM di Indonesia. Pasti beberapa teman-teman punya pikiran yang sama dengan saya. Bayangkan saja, kemunculannya bukan saja membetot perhatian pendengar, tapi juga memalingkan pandangan para pengiklan! Dahsyat kan!

Gen FM secara pasti menjadi radio bersama pilihan para operator area publik, dari mall-mall, lokasi hiburan, mini market sampai gardu tol yang bertebaran di Jakarta. Gen radio adalah sebuah fenomena, sejauh pengetahuan saya yang terbatas, jarang sekali radio yang bisa mendatangkan sekaligus pendengar dan pengiklan saat kemunculannya.

Dengan format musik serta pola siaran yang dipilihnya, plus pola pemutaran iklan yang khusus, Gen FM kini berada di bawah sinaran lampu sorot dunia radio di Indonesia. Terlalu bombastis kali. Tapi ya begitu realitasnya! 

Kemunculan fenomena Gen FM menimbulkan sebuah pertanyaan, apakah perlu sebuah campur tangan PMA untuk membangun sebuah radio yang bernas di Indonesia? Kemanakah para broadcaster kita? Gen FM tepat menyasar pasar konon dengan diawali sebuah survey saat menentukan sebuah format. Sebuah pilihan yang memang logis tapi kadang ‘lupa’ dilakukan insan radio di Indonesia. 

Punya pendapat tentang fenomena ini?

Penyiar yang Good good good.

December 11, 2007

Isu yang sering dan selalu ditanyakan ketika sekumpulan orang radio berkumpul biasanya selalu sama. Dan yang paling sering rasanya adalah membahas bagaimana sih penyiar yang baik itu?

Dan itu pun terjadi di milis praktisi radio!

Seorang miliser mas R. DjOkO iNdrA SatriAwAn menulis posting sebagai berikut:

..FriEnds, mnUruT Lo aNNouNcer yG bGus tUh yG seSuai keiNginan mnJmeN
aTo ListEneR??? tHanKs yAh…
 

Lalu muncul lah berbagai uraian dari para praktisi radio yang berkumpul di milis ini.

Misalnya Mba Puspitawangi yang langsung menjawab tepat 10 menit setelah thread ini muncul dengan pernyataan berikut:

Halo mas,Urun rembug ya, menurut saya..announcer yang bagus, yang bagus loh ya, adalah yang bisa “mengawinkan” antara 2 tuntutan itu. Sehingga dia bisa disukai sebagian besar pendengar (bukan hanya sekelompok saja) dan biasanya akan menjadi “benar” di mata menejemen, karena salah satu tuntutan menejemen kepada penyiar kan supaya bisa meraih sebanyak-banyaknya pendengar, bukankah begitu ? 

Nah seru kan!

Selanjutnya keluarlah pendapat Tika tentang penyiar yang Good… good… good.

Good announcer equals:

1.       Great SMS responds

2.      Great [Radio Advisor] ratings

3.      Great revenue
 

Tika bilang lebih jauh: Yang bingung adalah, kalo SMS banyak [naik], tapi Radio Advisor gak bagus [turun]. Hehehemakanya, jangan percaya sama Nielsen. Percayalah sama Tuhan dan hati nurani! :)

Buat yang punya online streaming, malah lebih canggih lagi. Raporpenyiar bisa diukur secara pasti.

“Ratings [a.k.a Radio Advisor] are called metrics in online streaming. Ratings are ESTIMATES, but metrics are EXACT! You can see PRECISELY HOW MANY people are LISTENING and WHEN they listened.” – Radio Ink, September 17, 2007.

Buat saya, 3 great itu sudah cukup komprehensif. Namun rasanya ada yang kurang kalo nggak ditambah satu satu lagi. 

Imho. Kalo boleh ditambah satu great lagi:

* Great (content) Value Maksudnya bagaimana sang penyiar juga bisa delivery nilai yang baik untuk kemanusiaan. Maksudnya bukan semata yang berkait dengan Yand Di Atas. Tapi tentang nilai-nilai universal seperti kejujuran, kritis, keberanian, positif thinking dan sejenisnya.

Debatable sih. Hehehe.

Tapi kayaknya kalo cuma tiga kesannya terlalu dagang abiiiz.Memang ini bisa diukur dengan dua great pertama. Tapi kalo nggak ditaroh, akan sama aja antara siaran yang penuh eksploitasi sex, atau kekerasan misalnya, asal dia responnya great dan advisornya great selesai sudah. Iya ngga?

Tapi, rupanya konsep yang benar untuk great yang ini menurut Tika ada pada kata PERSONALITY!Kurang lebih Tika bilang begini: Oh iya, sorry nih, takut jadi rancu, kayaknya saya salah menjabarkan good announcer dengan “great” yang saya sebut sebelumnya. Great2 itu maksud saya adalah indicator hasil akhir aja untuk seorang good announcer. Maap yaa… ^_^

Tapi gimana caranya merintis mendapatkan great-great itu, ini saya contek dari buku “The Program Director’s Handbook”, hanya satu kata: PERSONALITY. Jabarannya: [saya gak terjemahin ya, abis sering kali bahasa Indonesia itu jadi gak enak kalo udah diterjemahin!] Personality on the radio is the expression on the air OF your personality.1.  Personality does not equal talk.  Sometimes it’s what you DON’T say that’s important. 2.  Personality might mean warmth, humanity and believability. The laugh, the comments could make you sound human and believable. 3. Personality demands concentration and preparation. [write, edit, re-write, get some feedback… or leave it out!]. 4. Personality means knowing when to be “on” and when and how to get “off”. [capek kaliii denger orang ngomoooongg mulu’]. 5. Personality in radio means never losing concern for the audience. Who are they? What do they want? What are their needs? You RELATING to them, is what it’s all about. 6. Personality means knowing YOURSELF. Consistency is a major element of projecting personality. [maksudnya jangan moody]Personality ini berlaku bukan hanya untuk penyiar, tapi juga untuk program radio secara keseluruhan.Juga ada komentar yang menarik dari Mas Benedik Agung yang menariku untuk dikutip:

Setuju…Setuju…Setuju banget sama yg dibilang mbak kartika.
Ditambah sama yg penyiar sok terkenal…sok laku…..hahahahahahahahaha……padahal nggak terlalu banyak kontribusinya buat radio.

Buat saya penyiar yang mau manut…dan merasa dirinya “harus” slalu belajar itulah penyiar yang bagus.

Sbab matinya penyiar adalah ketika ia merasa pintar.krn tdk ada lagi keinginan untuk mengeksplorasi kompetensi dan potensi pada dirinya.

Sementara Pati Perkasa mengusulkan satu poin lagi dalam kriteria Penyiar yang Good yaitu Great Attitude.  Mas Bef bilang kalau attitude itu memang tuntutan untuk semua bagian di radio. Tapi karena kita sedang bicara penyiar, menurut Pati ya ini memang ditekenin kepada penyiar. Seperti kata pameo: Attitude menentukan altitude katanya. Hehehe…

Seru ya!
Wacana penyiar yang good memang nggak bakalan habis dibicarakan sampai dunia radio kiamat. Apalagi penyiar yang bagus (walau merupakan elemen penting) merupakan sebagian dari elemen terbentuknya radio yang good juga.

Tapi, buat saya, penyiar yang good itu ya tetep: Nuim Khaiyath. Halah! Maksa banget ya. Hehehe

Salah satu stigma yang ditujukan pada ‘orang radio’ di indonesia adalah nggak kompak. Kok bisa? Iya lah. Yang paling ketara banget adalah ketika orang radio saling menurunkan harga iklan agar bisa memperoleh billing dari klien. Betulkan? Hehehe.

Tapi, sekarang mudah-mudahan stigma itu tak berlaku lagi. Nampaknya sudah muncul satu kesadaran bersama bahwa entitas radio di Indonesia harus memulai memperbaiki dari dirinya sendiri jika ingin terus berbenah. Dan itu hanya bisa dilakukan dengan bersatunya orang radio, para praktisi radio di Indonesia.

Banyak cara menuju Roma katanya. Dan salah satu caranya seperti yang diprakarsai oleh Harley Prayudha untuk membuat sebuah milis yang hidup dengan anggota para praktisi radio di Indonesia. Milis ini bisa diakses dengan mendaftar ke alamat: praktisiradio-subscribe@yahoogroups.com

Semangatnya adalah kebersamaan, saling berbagi dan saling memberi untuk kemajuan dunia radio di Indonesia. Hari ini memang bukan saatnya lagi untuk semata mengedepankan kompetisi.

Beragam praktisi dengan beragam latar dan perusahaan radio telah bergabung di milis ini. Dari yang single station sampai yang berjaringan. Dari yang masih ijo seperti saya hingga yang udah mateng puun kayak Kang Harley. Hahaha..

Loh? apa ngga takut kalo ilmunya dicuri? Kata para anggotanya sih kompak: “Yaa nggak lah!” Biasanya sih, kalo ilmu dicuri itu tak semakin berkurang, tapi semakin bertambah. 

Selamat berdiskusi untuk perbaikan dunia radio Indonesia! Tetap Semangat!

Haloo, orang radio bersatu dong ah!

Maestro from Gang Bengkok

December 9, 2007

“Assalamu’alaikum wr wb, apa kabarrr! …. Kalau ada matahari jangan lupa jemur tilam dan bantal. Hati-hati dijalan. Kalau terlanggar beca, nayahlah badan!”

 Cerocosan itu terdengar bersamangat. Penuh energi dan membangun jiwa. Nuim Khaiyath namanya. Seorang master penyiaran Indonesia yang sederhana asli dari Gang Bengkok, Medan.  Sampai hari ini, saya belum menemukan bandingan yang sesuai dengan penggemar sayur nangka ini.

Saya banyak belajar dari Nuim Khaiyath. Terutama ketika menjadi ‘keneknya’ saat Bang Nuim, begitu dia biasa kami sapa, berdinas di Delta FM.

Ini kutipan tentang sosoknya dari wikipedia:
Nuim Khaiyath (nama lengkapnya:Nuim Mahmud Khaiyath) adalah seorang penyiar senior kelahiran Medan, Indonesia yang saat ini berdomisili di Melbourne, Australia. Dia saat ini menjadi Kepala Siaran Bahasa Indonesia di Radio Australia. Nuim Khaiyath memulai karirnya di bidang jurnalistik pada 1964 dengan bekerja di BBC’S Indonesian Service yang berpusat di London selama tiga tahun. Ia kemudian bergabung dengan Radio Australia Siaran Bahasa Indonesia (RASI) sejak 1967-1970. Pada 1970 ia pindah ke BBC London .

Dua tahun kemudian (1972) ia kembali lagi ke RASI, dan sejak tahun 1998 ia dipercaya untuk memimpin RASI. Ia populer dengan acara Sabtu Gembira (SAMBA), yang dibawakan dengan logat Melayu Medan .Acara tersebut disiarkan pula oleh Radio Delta FM setiap hari Sabtu pagi . Selain itu dia juga tampil dalam siaran Radio Ramako FM setiap Senin pagi dalam acara Poros Jakarta Melbourne. Acara lain yang diasuhnya di RASI adalah PERSPEKTIF, dan Dunia Olahraga. Aktifitas rutin yang dilakukannya diluar siaran radio adalah berenang dan membaca.

Saya merasa bangga bisa belajar banyak dari Abang yang berperawakan atletis in. Walau masih banyak yang harus saya pelajari kalau mau meneybut diri sebagai muridnya. Walau murid paling bodoh sekalipun! Hehehe…