Sharing Sindikasi Program
July 10, 2008
Sekedar berbagi,
Salah satu problem operasional semua radio adalah menyediakan konten yang berkualitas untuk mengisi siarannya. Untuk mewujudkan program, tentu nggak gratis alias ada cost.
Kenapa ya radio yang memiliki segmen sama tidak memanfaatkan program (terutama yang recorded) yang sudah ada di kota lain untuk disharing. Dengan demikian tentu biaya akan bisa ditekan. Bahkan, dengan pola sindikasi, bisa saja rerun program tersebut menjadi peluang baru jika disertai pengiklan baru (tentu dengan “formulasi harga” baru juga hehehe..)
Acara recorded baik yang hanya beberapa kali pakai/idle dari sebuah radio di medan, bandung, semarang atau Makassar misalnya, rasanya sayang banggeeet deh jika hanya digunakan hanya sekali pakai. Nggak ada salahnya, dengan sedikit mengedit, konten tersebut di pakai lagi oleh, misalnya: radio padang, radio bima, radio cilacap dsb.
Bukankah dengan demikian akan ada win-win solution dan penghematan luar biasa untuk biaya program per radio?
Lupakan gengsi per brand, asal program tersebut terdengar oke rasanya oke juga untuk siaran. Iya ngga?
Kalau saja saya punya beberapa radio, rasanya saya mau banget mengisi program dengan cara seperti itu. Walau harus tetap menjaga kompoisisnya hingga nggak punya karakter lokal sama sekali. hehehe..
Bagaimana menurut rekan-rekan pemerhati radio tercinta?
Sekedar pemikiran.
Kebetulan saya bertugas mengumpulkan dan menginventarisir program-program idle ini untuk “dimanfaatkan ulang”. Kali aza ada rekan-rekan yang punya list program bagus yang rasanya layak sindikasi? Kami sedang merintis apa yang disebut sebagai “Market Place” Sindikasi Program. Mau?
Salam Semangat!
Tetap Optimis!
***
DISKUSI (via milis FDR)
Berikut beberapa masukan tentang topik ini via milis FDR. Selamat menyimak dan berkomentar:
Jeff
Boy,
hal serupa pernah saya jalankan sewaktu saya masih berkiprah di tempat
anda ini beberapa tahun yang lalu. Kendalanya tetap ada dan bukan hanya
masalah cost semata. Segment boleh sama tapi gaya sangat berbeda karena
radio di negeri khatulistiwa ini sangat kaya akan varian, sama kayanya
dengan budaya dan bahasanya. Sekedar input bhw pengiklan saat ini justru
lebih ingin ‘menyasar’ ke lokalan tsb, bukan universal karena untuk hal
yang universal alias mass (masal), pengiklan lebih suka bermain di
televisi.
Salam,
Bonny
Dear All..
Sebenarnya menarik usulan mas Boy…saya pun jg pernah satu atap dengan mas Boy dan melakukan sindikasi program tsb.
tapi sayangnya sindikasi tsb bisa terwujud dengan bagus bisa pula gagal total, pengalaman saya di radio jaringan membuat saya sadar, bahwa acara tertentu blm tentu cocok dengan masing2 daerah, dan saya menyebut itu dengan ke “lokal”an, bisa jadi sukses ketika kontennya bagus dan penyiarnya lokal dan bisa membawakan dengan tepat acara tersebut, tetapi..sekali lagi konten bagus di kota A belum tentu bagus jg d kota B, apalagi kalo siarannya rellay! Saya bicara tentang kota Jogja, pendengar masih asing ketika yang siaran bukan penyiar lokal, walaupun yang siaran se tenar Dagienkz dan Desta tetapi bahasa yang mereka gunakan masih jauh dari kelokalan tersebut ( tp mungkin kota lain bisa menerimanya ) saya memang menggunakan patokan data Nielsen, walaupun banyak orang masih meragukan keabsahan Nielsen, tapi tetep jg digunakan sebagai parameter di luar jakarta..that’s why..saya saat ini masih menentang siaran rellay dalam bentuk apapun! hehehehehe…maap ya yg saat ini di program anda ada siaran rellay, ini cm pendapat pribadi saya..tapi jujur terkadang saya tidak berdaya ketika ada siaran rellay yg disponsori! hahahahaha….(namanya jg duit…)
Tetapi sekali lagi, kalo sindikasi program tersebut mampu dibawa ke lokalannya bisa jadi acara tersebut berhasil.
Terima kasih mas Boy…topik yang menarik.
Wassalam
Bonny
Harley
Iya Mas Boy..
Beberapa fakta tetap membuktikan bahwa “Radio is Local Content” dan hal ini belum terpatahkan…Kreatifitas program sindikasi radio era-80-an atau 90-an mungkin masih banyak diminati radio-radio daerah di Indonesia. Tapi sekarang menjadi tantangan tersendiri kalau ingin booming seperti dulu . Seperti juga kita tahu “Needs & Wants” pendengar di masing-masing daerah akan sangat berbeda (Pakem kuno tapi masih tetap ampuh). Saran saya sih : “Secara konsep program utuh diseragamkan itu lebih baik dan akan lebih baik lagi tingkat implentasinya percayakan pada radio daerah masing masing serta sesuai dengan karakter daerahnya “. Terlebih lebih program sindikasi recording, tidak ada gregetnya, karena radio juga dikenal sebagai medium interaksi antara radio dan pendengarnya.Akan lebih mengena mungkin program sindikasi yang melibatkan daerah secara langsung, ini mungkin jauh lebih menarik. Masalah ini sering saya sampaikan juga kepada pengelola radio networking, setiap saya mengelola radio unit member of network, bahwa daerah ya daerah, mereka kental dengan nuansa kedekatan psikologis antara radio dan kekhasan pendengarnya.
Tapi itu kembali kepada kebijakan perusahaan juga, menurut saya sih untuk sekarang ini dari pada mengejar efisiensi kos program tapi tidak efisien mending cari solusi lain, toh efisiensi kos program bukan yang utama tapi yang perlu di efisiensikan mungkin organisasinya ? Menurut saya kalau dihitung efisiensi kos program daerah tidak terlalu signifikan dengan mengejar profit optimal. Harga SDM daerah khan masih jauh lebih murah dibanding dengan SDM Ibukota dan system yang dibuat. Kalau saya sih mending SDM daerah di optimalkan dengan tujuan kemampuannya berkaliber nasional . Masih banyak SDM daerah yang berpotensi memiliki kemampuan kaliber Ibukota.
Harley Prayudha
Kusnendar Dadan
Bagus banget, tapi di tahun 90 an ada sponsor program recorded penyiarnya Tono Sebastian-Marlboro, wuih itu keren banget….saat ini belum ada lagi tuch yang nandingin……
Dicky
bagus sihh acaranya tetapi kesulitaanya tdk semua radio YANG MAU BEKERJA SAMA, karena memang masalah nya sepele yaitu DUIT dalam pembagian iklan slot nya, aku pernah sih dengan RCI dan asik sekali untuk konsep asli Indonesianya, dan setelah tdk ada kelanjutan yaa tidak apa2, karena yang ditawrakan kompensasinya juga bagus 70 : 30 untuk pembagian slot iklan jadi kita bebas cari iklan sendiri sebanyak 30 % dari jam tayang iklan , kemarin saya juga di tawrakan dengan MODEL yang sama oleh salah satu pecahan RCI dengan konsep yang sama , juga kerjasamanya, tetapi saya juga gak bisa menerima kerjasama tersebut berhub dengan DUIT juga yaitu saya mengganti ongkos kirim sebesar 150 rb perbulan padahal pengiriman dilakukan selama 4 kali dalam sebulan, klw saya lihat tdk logis aja deh, kita udah bagi enakan kita cuma 30 % ploting ehh malah dimintain lagi untuk ONGKIR, yaaa, maaf kita tdk bisa, klw mau bener2 hitungan harusna kita 70% dan sindikasinya 30 % hahahahahahaha,bener kerjasamany model sindikasi itu asik tetapi kembali masalah DUIT, dan juga klw pun sindikasi harus yang lebih general konsep acaranya karena kultur radio yang nantinya di ajak kerjasama juga berbeda2 maka harus lebih enakan, heheheheh, apali berkaiatan dengan sekitar kita, budaya kita, dan juga habit kita sebagi RAKYAT INDONESIA, heheh saya siap menerima konsep sindikasi ASALKAN PEMBAGIAN SLOT IKLAN SANGTLAH JELAS dan SAMA SAMA MENGUNTUNGKAN>heheheheheheheheh, kok malah jurhat yaaa, hahaha
DICky
Anda punya komentar lain?

Makasih buat perhatian rekan-rekan FDR untuk subyek ini.
Sebetulnya saya bicara bukan untuk program prime time yang rasanya memang harus lokal bangets seperti yang dibilang Om Jeff, Om Harley dan Mas Bonny. Bunuh diri namanya kalo jam ini di treatment dengan pola sindikasi oleh radio.
Satu lagi, kita juga nggak Cuma bicara tipe program relay/live. Tapi juga program insertion atau recorded. Ini juga sambil sama-sama belajar bagaimana mengarsipkan semua materi siaran dengan baik dan bener.
Tapi pada program regular, istilah kasarnya ganjel bedug gitu.
Apalagi rasanya ada kecenderungan bahwa pemirsa sekarang juga agaknya semakin homogen dalam hal-hal tertentu (nggak semua hal memang). dari cara berpakaian, makan dan bahkan cara berbicara dalam batas tertentu ya.
Kecuali jika dengan cara sekarang, cost masih tetep murah dengan SDM lokal. Tapi kalo ini dilakukan, sebetulnya SDM lokal bisa menangani lebih banyak hal lain kan? Kalo pola sinergi konten ini terjadi. Iya ngga?
Untuk Mas Dicky, pola ini sebetulnya nggak melulu soal DUIT loh. Hehehe…
Bisa kan program tetep gratisan asal ada kesepakatan win-win dan dengan niatan memang untuk bersinergi antara radio A di kota Y dengan radio B di kota Z. Keywordnya: saling bantu, menghindari kemubaziran, meningkatkan efisiensi dan (kalo bisa) efektifitas!
Makanya harus ada semacam “pasar program” biar setiap orang tahu apa barang bagus di satu kota yang bisa dipake oleh kota lain tanpa harus bertabrakan dalam soal persaingan. Saya yakin juga banyak radio yang non jaringan yang bisa saling sinergi konten, kalo radio jaringan rada sulit.
Kalo nanti ada iklan yang nyantol, baru kita bisa bicara soal DUIT, dengan fair dan saling nguntungin tentunya!
Begicu!
Mas Boy, ide market place buat sindikasi program ini menarik banget. Tapi seperti ente singgung juga di atas, kadang ‘gengsi’ masih menjadi nomor satu ya. Apa perlu bikin production house untuk program2 yang bisa di sindikasikan? Kan sekalian bisa untuk nampung program dari radio lain yang ingin di sindikasikan? Udah ada belum ya yang seperti itu di Indonesia?
boy: moga makin hilang gensi diantara kita. Hehehe.. Radionet sedang berusaha untuk jadi itu Ran. Sinerg lah.
hallo semua..
nimbrung juga nich,kalo ngeliat gelagatnya untuk sindikai program semcam ini lebih kuat kemasalah kemasyraktan: misalnya yg msh brthn adlh journal perempuan,untk sindikasi yang menguntungkan dan hemat biaya sekarang denga nmodel Relay.Cept murah dan Value lebih “kena” ,karena sifat radio “LIVe’ kalo recorded ehhm sangat standar.kebtulan saya di radio yang sering “konsen ke “rellay program” radio besar .dan rencana untuk NGirit Cost: jumlah Dj di radio member sudah di pangkas di ganti dengan DJ”operatorRelay” siap siap dunia baru
Oke ..gitu dulu thanks GBUF
boy: saya rasa, kalo kemasan program recordednya bagus, nggak kalah “hidup” dengan program live loh!