Radio dan Starbuck!

July 29, 2008

Beberapa hari lalu menyaksikan di sebuah televisi swasta sebuah film dokumenter tentang sepak terjang Starbuck sebagai sebuah brand sukses.

Ternyata, Starbuck nggak hanya sekedar ‘menjual’ kopi dengan segala variannya yang menarik.

Starbuck juga telah menjadi “toko” kelontong alat berkait kopi, memproduksi album musik bahkan merilis sebuah film!

Kecenderungan brand dan korporat menjadi “distributor” memang menggejala beberapa tahun terakhir. Di dalam negeri, kita tahu ada resto fast food macam KFC yang ternyata menjual juga CD album kompilasi. Pertamina kini memanfaatkan betul minimart yang ada di SPBUnya sebagai revenue baru, disamping menjual space SPBU untuk billboard, neon sign dan sebagainya.

Ketatnya persaingan dan krisi mungkin membuat beberapa brand dan korporat makin kreatif mencari peluang apapun untuk menghasilkan uang!

Radio, saya rasa sudah melakukan hal itu lebih dulu. Walau dengan pola yang agak beda, misalnya menjual Susu Kuda Liar atau barang-barang lainnya dengan memanfaatkan space idlenya. Hari ini, bagi sebagian besar radio, hanya mengandalkan penjualan spot dan program on air tentu bisa menjadi awal dari bencana (Wah syerem amat sih! hehehe…). Dan kini rasanya mulai banyak radio yang menikmati posisinya bukan hanya sebagai institusi penyiaran tapi sekaligus sebagai EO untuk melayani maraknya activation di Indonesia. Iya kan?

Rasanya, paling ngga menurut saya yang masih miskin pengalaman ini, radio punya peluang besar untuk juga berpuran sebagai channel distribusi apapun! Bukan hanya sekedar susu kuda liar, tapi juga barang lainnya yang mungkin. Apalagi dengan fungsinya sebagai media yang memiliki kekuatan promosi secara mandiri.

Tentu asal tidak menganggu kegiatan utama sebagai lembaga penyiaran, boleh dong mengambil peluang seperti ini di zaman “sulit” seperti saat ini.

Masima Radionet, saat ini sedang merintis ini untuk dijajaki di dunia radio kita. Ada beberapa produk yang menyatakan bersedia mencoba untuk mencoba cara ini.

Siapa tahu, bisa juga memberikan darah segar baru bagi industri kita. Iya kan?
Sekedar melontarkan remah pemikiran yang mungkin ngggak terlalu penting.

Bagaimana menurut Anda?

Salam semangat!

====

Komentar dari milis Praktisi Radio:

Patrick Jo:

Mas Boy Hamidy, salam kenal..

bicara tentang fungsi media radio dalam konteks “pengembangan” potensi income, jelas keberadaan Radionet sebagai pengembangan usaha dari jaringan prambors group sudah menjadi contoh nyata bagaimana radio adalah sebuah “satelit” dari berbagai bentuk kegiatan usaha yang bisa dikembangkan.. Dengan karakteristiknya sebagai sebuah medium lokal yang efektif masuk kedalam pola hidup pendengarnya maka radio harus mampu “mengendus” kebutuhan2 pendengarnya melalui program2 interaktif yang efektif dan tidak hanya melulu digunakan untuk minta lagu atau “sekedar” ngobrol diudara…

“Arisan FeMale” adalah bentuk nyata dari contoh “income tambahan” bagi JDFI akibat dari sebuah hasil “endusan” interaksi yg selama ini terjadi antara FeMale dengan pendengar2 wanitanya yg selama ini terjadi….

Jadi saya sangat setuju bahwa potensi itu sbenarnya sudah ada sebagai karakteristik medium radio itu sendiri… Radio sebagai media masa dan sebagai sarana promosi, adalah “mesin serbaguna” untuk membentuk berbagai potensi usaha lain dalam berbagai bentuk….

Thanks,
Patrick Jo.

Bonny Prasetya:

Setuju Mas Boy…
Memang kayaknya industri radio saat ini harus berpikir keras untuk mendapatkan sesuatu yang lebih, kita “seharusnya” gak cukup puas dengan hasil yang sekarang dimiliki, menjual airtime, jualan program dll, tetapi memang harus punya ide kreatif untuk bisa memperoleh hasil yg maksimal, di radio tempat saya bekerja skrg pun sudah mulai dirintis beberapa unit usaha yang kita harapkan bisa memberikan pemasukan yang lumayan.
Orang yang berjiwa bisnis pasti punya pemikiran yang dahsyat lagi, ketika satu usaha sukses dia akan melirik unit usaha baru lagi, begitu seterusnya…

Awan Putra:

Di Tempat saya bekerja, memiliki dua buah station radio yang berbeda segmennya, satu ke business satu ke budaya, selain itu kami juga mencari pemasukan lain dengan adanya event organizer yang cukup membantu juga, pada kesempatan event amild live soundrenaline ini, kesempatan yang cukup bagus juga karena kami di percaya untuk bisa menjadi mobile pre event a mild live soundrenaline di jogja, dengan dua buah mobil ob van yang cukup membantu juga untuk mendapatkan income tambahan bagi sebuah station radio. Dengan persaingan ketat juga radio radio di kota solo, sehingga memang membuat sebuah station radio juga harus berjuang keras untuk dapat berjuang keras mencari pemasukan lewat iklan atau income dari event yang lain. Boleh juga termasuk sebagai distributor barang barang yang selama itu mampu dijual dan di promokan oleh radio itu sendiri.

Rika Verry Kurniawan
Staff Produksi & Creative Program
107.3 Radio karavan FM & 104 Jimbaran FM
Jalan M.H. Thamrin No.11
Manahan, Solo
Jawa Tengah 57139

Om Jeff:

Terlepas bahwa subjek ini (bisa jadi) merupakan prolog ‘dagangan’nya Oom Boy untuk kepentingan salahsatu provider, maka yang menjadi esensial adalah kita tidak pernah mendapatkan esensi dari subjek ini sehingga kadangkala – cilakanya! – terjebak menjadi plagiator dengan nafas yang tersengal-sengal dikemudian hari.

Dalam hal ini saya cuma mencoba membawa makna kata ‘peluang’ menjadi lebih realistis. Lalu bagaimana realistisnya?

Semoga Oom Boy dapat memberikan tips dan kiat-kiatnya disini. Siapa tahu dengan tips tsb akan memberikan inspirasi lebih kepada rekan-rekan disini sehingga misnya tidak timbul asal bikin mirip arisan female saja.

Salam,

Jeff.

Sekedar berbagi,

Salah satu problem operasional semua radio adalah menyediakan konten yang berkualitas untuk mengisi siarannya. Untuk mewujudkan program, tentu nggak gratis alias ada cost.

 

blog.kir.comKenapa ya radio yang memiliki segmen sama tidak memanfaatkan program (terutama yang recorded) yang sudah ada di kota lain untuk disharing. Dengan demikian tentu biaya akan bisa ditekan. Bahkan, dengan pola sindikasi, bisa saja rerun program tersebut menjadi peluang baru jika disertai pengiklan baru (tentu dengan “formulasi harga” baru juga hehehe..)

 

Acara recorded baik yang hanya beberapa kali pakai/idle dari sebuah radio di medan, bandung, semarang atau Makassar misalnya, rasanya sayang banggeeet deh jika hanya digunakan hanya sekali pakai. Nggak ada salahnya, dengan sedikit mengedit, konten tersebut di pakai lagi oleh, misalnya: radio padang, radio bima, radio cilacap dsb.

 

Bukankah dengan demikian akan ada win-win solution dan penghematan luar biasa untuk biaya program per radio?

Lupakan gengsi per brand, asal program tersebut terdengar oke rasanya oke juga untuk siaran. Iya ngga?

 

Kalau saja saya punya beberapa radio, rasanya saya mau banget mengisi program dengan cara seperti itu. Walau harus tetap menjaga kompoisisnya hingga nggak punya karakter lokal sama sekali. hehehe..

 

Bagaimana menurut rekan-rekan pemerhati radio tercinta?

 

Sekedar pemikiran.

Kebetulan saya bertugas mengumpulkan dan menginventarisir program-program idle ini untuk “dimanfaatkan ulang”. Kali aza ada rekan-rekan yang punya list program bagus yang rasanya layak sindikasi? Kami sedang merintis apa yang disebut sebagai “Market Place” Sindikasi Program. Mau?

 

Salam Semangat!

Tetap Optimis!

 

***

 

DISKUSI (via milis FDR)

 

Berikut beberapa masukan tentang topik ini via milis FDR. Selamat menyimak dan berkomentar:

Jeff

Boy,

hal serupa pernah saya jalankan sewaktu saya masih berkiprah di tempat
anda ini beberapa tahun yang lalu. Kendalanya tetap ada dan bukan hanya
masalah cost semata. Segment boleh sama tapi gaya sangat berbeda karena
radio di negeri khatulistiwa ini sangat kaya akan varian, sama kayanya
dengan budaya dan bahasanya. Sekedar input bhw pengiklan saat ini justru
lebih ingin ‘menyasar’ ke lokalan tsb, bukan universal karena untuk hal
yang universal alias mass (masal), pengiklan lebih suka bermain di
televisi.

Salam,

 

Bonny

 

Dear All..
Sebenarnya menarik usulan mas Boy…saya pun jg pernah satu atap dengan mas Boy dan melakukan sindikasi program tsb.

tapi sayangnya sindikasi tsb bisa terwujud dengan bagus bisa pula gagal total, pengalaman saya di radio jaringan membuat saya sadar, bahwa acara tertentu blm tentu cocok dengan masing2 daerah, dan saya menyebut itu dengan ke “lokal”an, bisa jadi sukses ketika kontennya bagus dan penyiarnya lokal dan bisa membawakan dengan tepat acara tersebut, tetapi..sekali lagi konten bagus di kota A belum tentu bagus jg d kota B, apalagi kalo siarannya rellay! Saya bicara tentang kota Jogja, pendengar masih asing ketika yang siaran bukan penyiar lokal, walaupun yang siaran se tenar Dagienkz dan Desta tetapi bahasa yang mereka gunakan masih jauh dari kelokalan tersebut ( tp mungkin kota lain bisa menerimanya ) saya memang menggunakan patokan data Nielsen, walaupun banyak orang masih meragukan keabsahan Nielsen, tapi tetep jg digunakan sebagai parameter di luar jakarta..that’s why..saya saat ini masih menentang siaran rellay dalam bentuk apapun! hehehehehe…maap ya yg saat ini di program anda ada siaran rellay, ini cm pendapat pribadi saya..tapi jujur terkadang saya tidak berdaya ketika ada siaran rellay yg disponsori! hahahahaha….(namanya jg duit…)

Tetapi sekali lagi, kalo sindikasi program tersebut mampu dibawa ke lokalannya bisa jadi acara tersebut berhasil.
Terima kasih mas Boy…topik yang menarik.

Wassalam
Bonny 
 

Harley

 

Iya Mas Boy..

 

Beberapa fakta tetap membuktikan bahwa “Radio is Local Content” dan hal ini belum terpatahkan…Kreatifitas program sindikasi radio era-80-an atau 90-an mungkin masih banyak diminati radio-radio daerah di Indonesia. Tapi sekarang menjadi tantangan tersendiri kalau ingin booming seperti dulu . Seperti juga kita tahu “Needs & Wants” pendengar di masing-masing daerah akan sangat berbeda (Pakem kuno tapi masih tetap ampuh). Saran saya sih : “Secara konsep program utuh diseragamkan itu lebih baik dan  akan lebih baik lagi tingkat implentasinya percayakan pada radio daerah masing masing serta sesuai dengan karakter daerahnya “. Terlebih lebih program sindikasi recording, tidak ada gregetnya, karena radio juga dikenal sebagai medium interaksi antara radio dan pendengarnya.Akan lebih mengena mungkin program sindikasi yang melibatkan daerah secara langsung, ini mungkin jauh lebih menarik. Masalah ini sering saya sampaikan juga kepada pengelola radio networking, setiap saya mengelola radio unit member of network, bahwa daerah ya daerah, mereka kental dengan nuansa kedekatan psikologis antara radio dan kekhasan pendengarnya.

 

Tapi itu kembali kepada kebijakan perusahaan juga, menurut saya sih untuk sekarang ini dari pada mengejar efisiensi kos program tapi tidak efisien mending cari solusi lain, toh efisiensi kos program bukan yang utama tapi yang perlu di efisiensikan mungkin organisasinya ? Menurut saya  kalau dihitung efisiensi kos program daerah tidak terlalu signifikan dengan mengejar profit optimal. Harga SDM daerah khan masih jauh lebih murah dibanding dengan  SDM Ibukota dan system yang dibuat. Kalau saya sih mending SDM daerah di optimalkan dengan tujuan kemampuannya berkaliber nasional . Masih banyak SDM daerah yang berpotensi memiliki kemampuan kaliber Ibukota.

Harley Prayudha

Kusnendar Dadan

 

Bagus banget, tapi di tahun 90 an ada sponsor program recorded penyiarnya Tono Sebastian-Marlboro, wuih itu keren banget….saat ini belum ada lagi tuch yang nandingin……

 

Dicky

 

bagus sihh acaranya tetapi kesulitaanya tdk semua radio YANG MAU BEKERJA SAMA, karena memang masalah nya sepele yaitu DUIT dalam pembagian iklan slot nya, aku pernah sih dengan RCI dan asik sekali untuk konsep asli Indonesianya, dan setelah tdk ada kelanjutan yaa tidak apa2, karena yang ditawrakan kompensasinya juga bagus 70 : 30 untuk pembagian slot iklan jadi kita bebas cari iklan sendiri sebanyak 30 % dari jam tayang iklan , kemarin saya juga di tawrakan dengan MODEL yang sama oleh salah satu pecahan RCI dengan konsep yang sama , juga kerjasamanya, tetapi saya juga gak bisa menerima kerjasama tersebut berhub dengan DUIT juga yaitu saya mengganti ongkos kirim sebesar 150 rb perbulan padahal pengiriman dilakukan selama 4 kali dalam sebulan, klw saya lihat tdk logis aja deh, kita udah bagi enakan kita cuma 30 % ploting ehh malah dimintain lagi untuk ONGKIR, yaaa, maaf kita tdk bisa, klw mau bener2 hitungan harusna kita 70% dan sindikasinya 30 % hahahahahahaha,bener kerjasamany model sindikasi itu asik tetapi kembali masalah DUIT, dan juga klw pun sindikasi harus yang lebih general konsep acaranya karena kultur radio yang nantinya di ajak kerjasama juga berbeda2 maka harus lebih enakan, heheheheh, apali berkaiatan dengan sekitar kita, budaya kita, dan juga habit kita sebagi RAKYAT INDONESIA, heheh saya siap menerima konsep sindikasi ASALKAN PEMBAGIAN SLOT IKLAN SANGTLAH JELAS dan SAMA SAMA MENGUNTUNGKAN>heheheheheheheheh, kok malah jurhat yaaa, hahaha
DICky

 

Anda punya komentar lain?