DSC_0012Akhirnya seminar Radio Sales Management di Masa Krisis berlangsung lancar pada Selasa 19/5 di Hotel Ambahara, Jakarta. Rekan-rekan radio dari berbagai daerah mengikuti acara dengan antusias dari awal hingga akhir acara. Acara yang menghadirkan empat pembicara ini menyajikan seputar tips dan trik dunia radio dalam menghadapi krisis yang kini melanda dunia.

Di sessi pertama hadir dua pembicara, Ujang Nugraha, Direktur Masima Radionet  dan Lydia Djanas, Praktisi Periklanan Radio. Ujang Nugraha antara lian memberikan sinyal tentang perubahan besar yang kini terjadi di dunia radioyang beberapa diantaranya berkaitan erat dengan kondisi dunia periklanan saat ini. Sementara Lydia Djanas memaparkan tentang tips dasar pengembangan billing radio di masa krisis yang bertumpu pada konsistensi dan kerja keras para jajaran sales radio untuk menjalankan manajemen sales radio.

Di sessi kedua, tampil sebagai pembicara Dudu Abdullah, Investment Manager Mindshare dan FX Ridwan Handoyo, President & HRD Director LOWE. 

Dudu Abdullah banyak menyingkap seputar kiat-kiat yang bisa dilakukan radio dalam mempertahankan billing di masa sulit hingga tips bagaimana membina hubungan dengan biro iklan sebagai salah satu sumber billing. Sedang Ridwan Handoyo lebih membahas aspek internalisasi nilai-nilai pantang menyerah dalam meraih kesuksesan yang harus dimiliki oleh setiap tenaga penjual di setiap radio.

Berikut data Radio yang mengirimkan peserta seminar:

ARDAN GROUP BANDUNG
CINDE INDRAMAYU
DB 90 Plus FM – Cirebon
PT. RADIO FAJAR PRIMAWARA (DFAS FM) INDRAMAYU
FB FM PURWAKARTA
GERONIMO YOGYAKARTA
HARMONY SERANG
HARMONI / EMC TANGERANG
INDIKA MILLENIA
LAZUAR FM CIKAMPEK
MAYA NADA 98 FM
MBS FM Jogja
MD RADIO 93.2 FM
MENARA FM BALI & FBI  FM BALI
MGFM INDRAMAYU
MGT Bandung
RCM RADIONET
PADUKA FM PURWOKERTO
MAS FM KEBUMEN
PESONA SALATIGA
PT Radio Garuda Tunggal Angkasa
PT. RADIO CAKTI BUDHI BHAKTI (CBB)
PT. RADIO PARANTI FM 105.6
PT. RADIO REDIAL SWARATAMA (BOSS FM)
RADIO GAYA 93,6 FM BEKASI
RADIO PELITA KASIH
RADIO REKS
RAJAWALI LAMPUNG
RAKOSA FM Jogja
RETJO BUNTUNG GROUP
RIA CINDELARAS
SALSABILA 94.1 FM SAMPANG
SIMPHONY SUBANG
STAR RADIO TANGERANG
Wijayakusuma FM
PT. RADIO SIARAN LINGGARJATI UTAMA (RASILIMA) 103.20 FM
IBC FM SEMARANG
PT. RADIO BONANSA MEDIASWARA
SBI BALIKPAPAN
PT. ARUS RIZKI (AR CIMAHI)
GIGANTARA
COLORS Surabaya
WARNA FM PASURUAN
KIS SEMARANG
BroadcastOne Solutions
RASE FM

Sampai jumpa di seminar berikutnya!
Salam semangat! 

Ingin memperoleh soft copy materi seminar. Kunjungin www.radionetshop.com dalam waktu dekat.

DSC_0054Sudah menjadi kenyataan bahwa tahun 2009 masih merupakan tahun berat bagi industri radio di tanah air. Kondisi perekonomian Indonesia yang belum pulih benar dari masa resesi, di tambah lagi dengan adanya krisis ekonomi global, plus kegiatan Pemilu yang menyebabkan banyak klien menunda kegiatan promosinya. Indikator pertumbuhan ekonomi Indonesia kini sudah anjlok menjadi hanya 3,4% saja di 2009 ini, padahal tahun 2008 lalu masih berada di kisaran 6,1% s/d 6,3%. Padahal tingkat inflasi tetap bertahan pada posisi 2 digit, sekitar 12% hingga 13%.

Di tengah-tengah berbagai keterbatasan dan kendala, tentu harus selalu ada upaya-upaya untuk mencari celah dan jalan keluar. Sehingga kondisi usaha kita tidak benar-benar terpuruk dalam kondisi yang memprihatinkan. Hanya radio-radio yang berwawasan luas dan selalu meningkatkan ilmu bagi SDM-SDM nya yang akan akan selamat dari kondisi turbulensi yang sangat mengkhawatirkan ini. SDM-SDM yang tangguh akan mampu menyelamatkan unit usaha kita dari keterpurukan yang mematikan.

Untuk itulah PT Radionet Cipta Karya, kembali menggelar Seminar Sehari OPTIMALISASI SALES MANAGEMENT RADIO MENGHADAPI SITUASI KRISIS PERIKLANAN RADIO 2009, yang akan sangat bermanfaat bagi industri penyiaran radio guna mendapatkan wawasan, pengetahuan, sharing dan network di antara teman-teman sesama industri radio dan juga beberapa pakar dari Advertising Agency. Pertukaran pengalaman dan pengetahuan dalam menghadapi kondisi terburuk periklanan radio diharapkan akan dapat menjadi sebuah solusi yang akan menyelamatkan bisnis periklanan radio dari keterpurukan.

NAMA KEGIATAN
Seminar Sehari OPTIMALISASI SALES MANAJEMEN RADIO MENGHADAPI SITUASI KRISIS PERIKLANAN RADIO 2009

TEMPAT KEGIATAN
Ambhara Hotel, Jl. Sultan Hasanuddin, Jakarta Selatan.

WAKTU KEGIATAN
Selasa, 19 Mei 2009, jam 09.00 – 16.30

PELAKSANA KEGIATAN
PT Radionet Cipta Karya

PESERTA KEGIATAN
Peserta kegiatan pada acara ini adalah : Para General Manager, Sales Manager, atau Sales Radio yang memerlukan pengetahuan tambahan, network dan juga partner sharing dalam bisnis radio;

BIAYA KEGIATAN
Setiap peserta dikenakan biaya kegiatan sebagai investasi sebesar Rp. 500.000,- (lima ratus ribu rupiah). Peserta akan mendapatkan fasilitas, 2 kali snack, 1 kali makan siang dan sertifikat.

Info dan reservasi: 021-7228248 (Tempat Sangat Terbatas)

Bang Zein..

April 29, 2009

Buat saya dan beberapa orang radio lainnya Zein Marasabessy adalah salah satu penyiar hebat yang dimiliki negeri ini. Mungkin Bang Zein adalah satu-satunya penyiar yang kata-katanya pernah dijadikan headlines sebuah koran sebesar Kompas di suatu ketika. Bang Zein adalah juga seorang guru, yang mengajari orang-orang di sekitarnya dengan caranya sendiri…

Bang Zein, demikian saya dan kawan-kawan di Radio Delta Jakarta biasa memanggil beliau, adalah ‘orang radio tulen’. Di nadinya mengalir darah radio yang begitu kental dari perjalanan karirnya di profesi keradioan hingga minatnya pada dunia ke penyiaran. Darah radio yang membuat duduk, berdiri bahkan bernafasnya menunjukkan asam garam dunia profesi dan kompentensi yang tak disangsikan lagi.

Coba tanyakan mereka yang mendengarkan radio di era-era awal reformasi. Hampir semua tokoh kunci saat itu pernah merasakan pertanyaan tajam dan kadang menggelitik yang diajukan seorang Zein Marasabessy dalam Delta Morning Show di 99,1 Delta FM saat itu. Bang Zein mungkin menjadi salah satu pelopor jurnalisme kritis radio saat itu.

Saya bangga bisa belajar dari Bang Zein. Dengan caranya yang unik, Bang Zein mengajarkan bagaimana seharusnya seorang radio broadcaster berpikir, berkata dan bertindak. Bahkan bagaimana bermimpi dan bervisi sebagai orang radio!  Salah satu yang paling mengagumkan saya dari Bang Zein hingga saat ini adalah: totalitasnya. Selama belasan tahun, dalam suasana apapun: sakit, sehat, susah, senang, normal dan krisis, Bang Zein menunjukkan konsistensinya memberikan yang terbaik buat pendengarnya. Bang Zein bahkan bisa tetap membawakan sebuah joke dengan baik bahkan ketika kami tahu mood-nya sedang tak cocok untuk tertawa.

‘Biasa’ buat seorang radio seperti Bang Zein untuk ‘tiba-tiba’ menjadi penyiar utama selama ‘24 jam’ di radio Delta FM ketika masa-masa genting terjadi di negeri ini. Dari peristiwa reformasi 98, liputan pemilu 1999 atau saat terjadi targedi semanggi. Radio telah menjadi rumah kedua buat penyiar yang memiliki karakter suara berat yang khas ini. Mungkin perlu sebuah buku untuk menunjukkan betapa berwarna dan menariknya seorang Zein Marasabessy.

Selasa, 28 April 2009, saya menerima sebuah sms dari seorang teman: “Innalillahi wa inna ilahi rojiun.. Bang Zein Marasabessy meninggal dunia.

Dunia radio negeri ini kembali kehilangan salah satu putra terbaiknya.
Selamat jalan Bang Zein…

Let’s Go Mobile!

April 23, 2009

mmobile-012Kecenderungan makin maraknya penggunaan ponsel sebagai alat multi guna bagi makin banyak orang membuat peta media semakin dinamis. Sinergi ponsel dengan dunia online juga membawa pengaruh sendiri bagi para pengelola media dan praktisi marketing. Bagaimana menyiasatinya?

Tak kurang Kompas merilis berita tentang betapa sinergi antara ponsel dan dunia internet kini telah merubah cara hidup semakin banyak manusia. Kini tren itu berubah lagi, namun pergerakannya justru mengembalikan ponsel menjadi alat komunikasi. Hanya saja kemampuannya jauh lebih canggih dengan tetap dilengkapi sarana hiburan. Bila dulu sekedar bertelepon dan berkirim SMS, kini lewat ponselnya orang bisa berkirim email, chatting menggunakan fasilitas messenger, mengirim suara, bahkan menjelajahi dunia maya dengan cara yang luar biasa. Demikian tulis Kompas.

Fenomena ini memang harus terus dicermati. Tapi tentu bukan sebuah ancaman bagi media ‘tradisional’ seperti cetak, radio dan televisi. Dengan sedikit ‘penyesuaian’ bahkan bisa terbuka peluang baru yang bisa diperoleh oleh media untuk memanfaatkan fenomena baru ini sebagai alat marketing dengan karakteristik unik. Inilah yang sering disebut sebagai media convergence.

Kasus Radio
Bagi radio, cara paling sederhana adalah memastikan kehadirannya di dunia maya dengan membuat website yang layak hingga melakukan streaming untuk siaran-siarannya. Ada cara yang lebih rumit berupa pembuatan podcasting yang memungkinkan radio menjadi lebih costumize bagi pendengar.

Namun, sejalan maraknya fenomena internet mobile, tentu ada hal lain yang bisa dilakukan pengelola media dan marketer. Beberapa gadget, bahkan sudah sejak lama membenamkan penerima radio di dalam piranti. Terakhir iphone dan Blackberry pun telah melakukan hal yang sama. Tapi ‘bundling’ sofware seperti ini tentu belum optimal selain bahwa para pengguna ponsel kini juga punya ‘pilihan’ untuk mendengarkan siaran radio dari gadgetnya. Skema yang paling menarik adalah apa yang disebut radio visual, tapi tampaknya platform ini gak terlalu berjalan dengan baik di Indonesia.

mmobile03Nah, prospek pemanfaatan lain yang mungkin bisa mendatangkan berjuta peluang adalah membuat mobile magazine dan menjadikan mobile book/brochure sebagai tools tambahan bagi konvergensi media radio. Dengan tools ini, bahkan perluasan bisa dilakukan bukan hanya sekedar mengantisipasi maraknya internet mobile. Tapi juga mulai memanfaatkan database secara lebih fleksibel. Platform ini juga dapat digunakan untuk merangsang meningkatkan selling dengan pola promo dengan sarana mobile coupon/discount.

Platform ini memungkinkan proses pembangunan dan pengayaan database menjadi lebih mudah. Pengayaan database, baik untuk kepentingan program maupun alat bantu marketing dapat dilakukan bahkan secara mandiri oleh pendengar melalui platform ini. Bahkan mobile media ini berpeluang menambah kekuatan media (yang sebelumnya menjadi kelemahan radio) dengan adanya ekstensi kemampuan berupa tools visual bahkan audio-visal bagi radio!

Mungkin bisa menjadi solusi buat Anda.
Tertarik?


Menyinggung soal digital native dan kaitannya dengan media, saya direkomendasikan sebuah buku oleh Rane yang rasanya bagus dibaca oleh pengelola media untuk menyiapkan diri menghadapi generasi baru pasca baby boomer ini. Thanks to Rane.

Kalau Marc Prensky menyebut generasi baru ini dengan digital native, maka Growing Up Digital karya Don Tapscott menyebut generasi ini sebagai N-Gen (terambil dari Internet atau Net Generation).

Mungkin bagus juga menyimak buku ini sebagai sebuah langkah antisipasi. Menariknya, juga sudah tersedia website yang khusus membahas isi buku dan tema besar growing up digital yang bisa dilihat di sini.

Situs tersebut cukup lengkap membahas berbagai aspek dari N-Gen. Mulai dari cara berpikir, cara belajar, hingga bagaimana perilaku mereka sebagai konsumer!

Di situs tersebut misalnya dibahas tentang N-Gen culture yang mungkin bermanfaat bagi pengelola media dan juga perilaku konsumer dari N-Gen yang terkait dengan dunia marketing. Tentu, paling tidak buat saya, berkait erat  juga dengan peran sebagai orang tua yang akan dan sedang menghadapi generasi sejenis di rumah kita sendiri!

Tema budaya dari N-Gen yang tercantum dalam situs adalah sebagai berikut:

     

  1. Strong Independence The typical N-Gener has a strong sense of independence & autonomy. N-Gen’s unprecedented access to information also gives them the power to acquire the knowledge necessary to confront information they feel may not be correct. 
  2. Emotional and Intellectual Openness When N-Geners go online they expose themselves. They will maintain online journals and post their innermost thoughts on a Web page or in a chat room. A strong online example of N-Geners’ openness is The Diary Project where young people around the world contribute their thoughts, feelings, experiences and aspirations. 
  3. Inclusion N-Geners are moving toward greater social inclusion with technology, not exclusion. Their creative processes show a move toward global orientation in all of their activities. Check out a virtual community of about 30,000 N-Geners at Freezone
  4. Free Expression and Strong Views Being exposed to a lot of information on the Internet is to their benefit, insists N-Gen, and is a key element of the Internet’s appeal and usefulness. This issue is discussed in The Generation Lap
  5. Innovation N-Geners live and breathe innovation, constantly looking for ways to do things better. These expectations of constant change and the ability to build or construct experiences have implications in our discussion of N-Gen Thinking and the education of N-Gen in N-Gen Learning
  6. Preoccupation with Maturity The changing nature of childhood makes itself most obvious when N-Geners are contrasted with the baby boomers who, as a generation, have spent their lives obsessed with being youthful. N-Geners insist that they are more mature than adults expect. 
  7. Investigations When it comes to technology, N-Gen’s initial focus is not how it works but how to work it. It is important for children to understand the assumptions inherent in software and to feel empowered to change those assumptions.When the Internet first became popular, one of the joys of surfing was never knowing what site you could end up at next. Search engines like Yahooligans have contributed to ending that level of mystery and uncertainty. 
  8. Immediacy Interactivity and the speed of the Net have greatly increased the process of communicating. What used to take days or weeks, now takes seconds. 
  9. Sensitivity to Corporate Interest N-Geners feel that much of the broadcasting material they see on television is there to satisfy corporate agendas. However, on the Internet there has been such a flurry of creation involving so many people working in home-grown cottage industries, that there is even more intense sensitivity to corporate interest. 
  10. Authentication and Trust Because of the anonymity, accessibility, diversity, and ubiquity of the Net, children must continually authenticate what they see or hear. Many sites provide inaccurate, invalid and even deceptive information. Pranksters spread false rumours. Who can the child trust? What sources of information are valid? Authentication of everything is required to establish trust. 
  11.  

 

Sedangkan untuk perlikau N-Gen sebagai konsumer yang berkait dengan dunia marketing, situs menulis ringkasan sebagai berikut:

     

  1. N-Geners Want Options 
    Availability of choice is a deeply held value in N-Gen culture. Having grown up in a free and interactive world, nothing is more foreign to them than limits and monopolies. 
  2. N-Gen Customization
    N-Geners are entering a world of highly customized products and services which will be shaped by them, not just as a market, but as individuals. This is causing changes in learning and the relationship between working, learning, and daily life as a consumer. Brand names may be able to overcome this obstacle as they have done so many times, however the future may lead to a change in the way products are marketed, and already in the way products are bought. 
  3. They want to Change Their Minds
    Video games and the Net are an environment where mistakes can immediately be corrected and situations can be re-created. N-Geners, however, also expect to be able to change their minds, not just to correct their mistakes. They want to be able to “change their minds a thousand times”, as country singer Shania Twain says. Marketers should pay attention to this fact. 
  4. Try Before They Buy
    N-Geners are not viewers or listeners or readers. They are users. They reject the notion of expertise as they shift through information at the speed of light by themselves, for themselves. It is difficult to convince them that they must have anything. Other industries can learn what the software and video game industries have already adopted – make your product free to use for a limited time. If it’s use becomes integrated into the N-Gen routine, making activities faster, brighter, and easier, then the product becomes indispensable and the companies can begin to charge. 
  5. The Ethics of Advertising to N-Gen
    Given the growing influence of the N-Gen in adult purchasing, we can expect that advertisers will launch massive campaigns to deliver their messages to N-Geners – on packaging, billboards, print media, television, and increasingly, the Net. But there are ethical problems that arise when advertisers target children, and those questions are becoming harder to answer.
  6.  

Menarik untuk di telaah, baik sebagai pengelola media maupun sebagai bagian dari proses marketing. Punya ide dan komentar?

Selamat berburu buku dan menyimak situsnya. Salam semangat!

digital native

April 15, 2009

Menjadi kata yang sering kita dengar akhir-akhir ini di beberapa media. Digital native (dan digital immigrant) istilah baru dalam dunia pendidikan yang diperkenalkan Marc Prensky sejak tahun 2001. Mengacu pada tumbuhnya lapisan generasi baru yang ‘dibesarkan’ oleh piranti digital. Dari komputer, internet, ipod, pemutar mp3, psp, smartphone dan beragam perangkat lainnya.

Generasi baru dengan karakteristik unik yang dalam waktu dekat akan memenuhi bumi. Sebagian sudah berkeliaran sebagian lagi dalam proses pembentukan. Mungkin Anda adalah salah satunya.

Referensi bisa dilihat di sini, atau di sini.

Dari dunia pendidikan tentu pengaruhnya terus berderap ke dunia lainnya. Terutama kepada cara mengkonsumsi media hingga ke proeses marketing yang tak lagi sama.

Siapkah media menyambut generasi baru ini? Mau tak mau tentu harus siap menghadapinya.

Sadar atau tidak, media telah melakukan beragam penyesuaian menyambut digital native. Sudah jarang ditemui artikel koran yang bersambung ke halaman dalam. Beberapa koran juga menjadi lebih kompak dan ramping untuk menyesuaikan cara membaca scroll down yang akrab digunakan para pengguna pc. Beberapa koran juga sudah menghidupkan dot comnya secara masif bahkan kini e-paper menjadi kebutuhan.

Di radio, acara blocking yang berkepanjangan sudah dihindari. Wawancara dengan topik sama dalam rentang waktu yang panjang juga bukan jadi pilihan. Program berubah menjadi ‘kapsul-kapsul’ yang fleksibel untuk diputar di segmen waktu manapun.

Di televisi, program kini berinteraktif dengan segala macam kembangan piranti digital, dari bb, fb, ym dan sebagainya. tak ada talkshow dengan tamu tunggal, tapi menjadi variety show dengan segmen berwarna-warni seperti Kick Andy.

Tentu banyak lagi PR yang harus dicermati kaum media untuk menyambut kedatangan kaum digital native. Anda punya opini ?

Welcome the [new] jungle!

logo-radionet-2Atas nama Masima Radionet ingin mengucapkan terima kasih atas dukungan teman-teman sehingga acara “Seminar Peluang Bisnis Jurnalistik dan Program Radio di Pemilu 2009” yang kami selenggarakan pada Selasa, 24 Februari 2009 di Sofyan Hotel Cikini dapat berjalan dengan baik.

Terima kasih buat para partisipan, Insan-insan Radio dengan semangat tinggi, yang telah jauh-jauh datang ke lokasi acara dan menyimak seminar dengan seksama.

Terima kasih buat para pengisi acara: Pak Putu dari KPU Pusat, Pak Frans Padak Demon (VOA INDONESIA), Mas Santoso (KBR68H). Juga para Moderator Mas Irwan Hidayat (Sekum PRSSNI) dan Kang Yoni Amir Hamzah (Ketua ARSSLI)

Plus pengisi selingan acara: Band Anarich dan Saundra (yang sumpah nyanyinya bagus-bagus! hehehe)

Tentu masih banyak kekurangan dan ketidaksempurnaan dalam acara. Mohon masukan dan kritik dari teman-teman untuk perbaikan bagi kami di program yang akan datang. Silakan kirimkan masukan dan kritik ke email boy.hamidy@gmail.com atau ke lia.namaku@gmail.com. Segala kritik dan saran pasti akan menjadi masukan berharga buat kami.

Bagi teman-teman yang ingin memperoleh materi seminar berupa soft copy, dapat diperoleh dan diunduh di situs http://www.radionetshop.com/  

Semoga memberi manfaat bagi kemajuan radio di Indonesia.

Terima kasih.

Salam Radio!
Salam Sinergi!
Salam semangat!

Radio dan Starbuck!

July 29, 2008

Beberapa hari lalu menyaksikan di sebuah televisi swasta sebuah film dokumenter tentang sepak terjang Starbuck sebagai sebuah brand sukses.

Ternyata, Starbuck nggak hanya sekedar ‘menjual’ kopi dengan segala variannya yang menarik.

Starbuck juga telah menjadi “toko” kelontong alat berkait kopi, memproduksi album musik bahkan merilis sebuah film!

Kecenderungan brand dan korporat menjadi “distributor” memang menggejala beberapa tahun terakhir. Di dalam negeri, kita tahu ada resto fast food macam KFC yang ternyata menjual juga CD album kompilasi. Pertamina kini memanfaatkan betul minimart yang ada di SPBUnya sebagai revenue baru, disamping menjual space SPBU untuk billboard, neon sign dan sebagainya.

Ketatnya persaingan dan krisi mungkin membuat beberapa brand dan korporat makin kreatif mencari peluang apapun untuk menghasilkan uang!

Radio, saya rasa sudah melakukan hal itu lebih dulu. Walau dengan pola yang agak beda, misalnya menjual Susu Kuda Liar atau barang-barang lainnya dengan memanfaatkan space idlenya. Hari ini, bagi sebagian besar radio, hanya mengandalkan penjualan spot dan program on air tentu bisa menjadi awal dari bencana (Wah syerem amat sih! hehehe…). Dan kini rasanya mulai banyak radio yang menikmati posisinya bukan hanya sebagai institusi penyiaran tapi sekaligus sebagai EO untuk melayani maraknya activation di Indonesia. Iya kan?

Rasanya, paling ngga menurut saya yang masih miskin pengalaman ini, radio punya peluang besar untuk juga berpuran sebagai channel distribusi apapun! Bukan hanya sekedar susu kuda liar, tapi juga barang lainnya yang mungkin. Apalagi dengan fungsinya sebagai media yang memiliki kekuatan promosi secara mandiri.

Tentu asal tidak menganggu kegiatan utama sebagai lembaga penyiaran, boleh dong mengambil peluang seperti ini di zaman “sulit” seperti saat ini.

Masima Radionet, saat ini sedang merintis ini untuk dijajaki di dunia radio kita. Ada beberapa produk yang menyatakan bersedia mencoba untuk mencoba cara ini.

Siapa tahu, bisa juga memberikan darah segar baru bagi industri kita. Iya kan?
Sekedar melontarkan remah pemikiran yang mungkin ngggak terlalu penting.

Bagaimana menurut Anda?

Salam semangat!

====

Komentar dari milis Praktisi Radio:

Patrick Jo:

Mas Boy Hamidy, salam kenal..

bicara tentang fungsi media radio dalam konteks “pengembangan” potensi income, jelas keberadaan Radionet sebagai pengembangan usaha dari jaringan prambors group sudah menjadi contoh nyata bagaimana radio adalah sebuah “satelit” dari berbagai bentuk kegiatan usaha yang bisa dikembangkan.. Dengan karakteristiknya sebagai sebuah medium lokal yang efektif masuk kedalam pola hidup pendengarnya maka radio harus mampu “mengendus” kebutuhan2 pendengarnya melalui program2 interaktif yang efektif dan tidak hanya melulu digunakan untuk minta lagu atau “sekedar” ngobrol diudara…

“Arisan FeMale” adalah bentuk nyata dari contoh “income tambahan” bagi JDFI akibat dari sebuah hasil “endusan” interaksi yg selama ini terjadi antara FeMale dengan pendengar2 wanitanya yg selama ini terjadi….

Jadi saya sangat setuju bahwa potensi itu sbenarnya sudah ada sebagai karakteristik medium radio itu sendiri… Radio sebagai media masa dan sebagai sarana promosi, adalah “mesin serbaguna” untuk membentuk berbagai potensi usaha lain dalam berbagai bentuk….

Thanks,
Patrick Jo.

Bonny Prasetya:

Setuju Mas Boy…
Memang kayaknya industri radio saat ini harus berpikir keras untuk mendapatkan sesuatu yang lebih, kita “seharusnya” gak cukup puas dengan hasil yang sekarang dimiliki, menjual airtime, jualan program dll, tetapi memang harus punya ide kreatif untuk bisa memperoleh hasil yg maksimal, di radio tempat saya bekerja skrg pun sudah mulai dirintis beberapa unit usaha yang kita harapkan bisa memberikan pemasukan yang lumayan.
Orang yang berjiwa bisnis pasti punya pemikiran yang dahsyat lagi, ketika satu usaha sukses dia akan melirik unit usaha baru lagi, begitu seterusnya…

Awan Putra:

Di Tempat saya bekerja, memiliki dua buah station radio yang berbeda segmennya, satu ke business satu ke budaya, selain itu kami juga mencari pemasukan lain dengan adanya event organizer yang cukup membantu juga, pada kesempatan event amild live soundrenaline ini, kesempatan yang cukup bagus juga karena kami di percaya untuk bisa menjadi mobile pre event a mild live soundrenaline di jogja, dengan dua buah mobil ob van yang cukup membantu juga untuk mendapatkan income tambahan bagi sebuah station radio. Dengan persaingan ketat juga radio radio di kota solo, sehingga memang membuat sebuah station radio juga harus berjuang keras untuk dapat berjuang keras mencari pemasukan lewat iklan atau income dari event yang lain. Boleh juga termasuk sebagai distributor barang barang yang selama itu mampu dijual dan di promokan oleh radio itu sendiri.

Rika Verry Kurniawan
Staff Produksi & Creative Program
107.3 Radio karavan FM & 104 Jimbaran FM
Jalan M.H. Thamrin No.11
Manahan, Solo
Jawa Tengah 57139

Om Jeff:

Terlepas bahwa subjek ini (bisa jadi) merupakan prolog ‘dagangan’nya Oom Boy untuk kepentingan salahsatu provider, maka yang menjadi esensial adalah kita tidak pernah mendapatkan esensi dari subjek ini sehingga kadangkala – cilakanya! – terjebak menjadi plagiator dengan nafas yang tersengal-sengal dikemudian hari.

Dalam hal ini saya cuma mencoba membawa makna kata ‘peluang’ menjadi lebih realistis. Lalu bagaimana realistisnya?

Semoga Oom Boy dapat memberikan tips dan kiat-kiatnya disini. Siapa tahu dengan tips tsb akan memberikan inspirasi lebih kepada rekan-rekan disini sehingga misnya tidak timbul asal bikin mirip arisan female saja.

Salam,

Jeff.

Sekedar berbagi,

Salah satu problem operasional semua radio adalah menyediakan konten yang berkualitas untuk mengisi siarannya. Untuk mewujudkan program, tentu nggak gratis alias ada cost.

 

blog.kir.comKenapa ya radio yang memiliki segmen sama tidak memanfaatkan program (terutama yang recorded) yang sudah ada di kota lain untuk disharing. Dengan demikian tentu biaya akan bisa ditekan. Bahkan, dengan pola sindikasi, bisa saja rerun program tersebut menjadi peluang baru jika disertai pengiklan baru (tentu dengan “formulasi harga” baru juga hehehe..)

 

Acara recorded baik yang hanya beberapa kali pakai/idle dari sebuah radio di medan, bandung, semarang atau Makassar misalnya, rasanya sayang banggeeet deh jika hanya digunakan hanya sekali pakai. Nggak ada salahnya, dengan sedikit mengedit, konten tersebut di pakai lagi oleh, misalnya: radio padang, radio bima, radio cilacap dsb.

 

Bukankah dengan demikian akan ada win-win solution dan penghematan luar biasa untuk biaya program per radio?

Lupakan gengsi per brand, asal program tersebut terdengar oke rasanya oke juga untuk siaran. Iya ngga?

 

Kalau saja saya punya beberapa radio, rasanya saya mau banget mengisi program dengan cara seperti itu. Walau harus tetap menjaga kompoisisnya hingga nggak punya karakter lokal sama sekali. hehehe..

 

Bagaimana menurut rekan-rekan pemerhati radio tercinta?

 

Sekedar pemikiran.

Kebetulan saya bertugas mengumpulkan dan menginventarisir program-program idle ini untuk “dimanfaatkan ulang”. Kali aza ada rekan-rekan yang punya list program bagus yang rasanya layak sindikasi? Kami sedang merintis apa yang disebut sebagai “Market Place” Sindikasi Program. Mau?

 

Salam Semangat!

Tetap Optimis!

 

***

 

DISKUSI (via milis FDR)

 

Berikut beberapa masukan tentang topik ini via milis FDR. Selamat menyimak dan berkomentar:

Jeff

Boy,

hal serupa pernah saya jalankan sewaktu saya masih berkiprah di tempat
anda ini beberapa tahun yang lalu. Kendalanya tetap ada dan bukan hanya
masalah cost semata. Segment boleh sama tapi gaya sangat berbeda karena
radio di negeri khatulistiwa ini sangat kaya akan varian, sama kayanya
dengan budaya dan bahasanya. Sekedar input bhw pengiklan saat ini justru
lebih ingin ‘menyasar’ ke lokalan tsb, bukan universal karena untuk hal
yang universal alias mass (masal), pengiklan lebih suka bermain di
televisi.

Salam,

 

Bonny

 

Dear All..
Sebenarnya menarik usulan mas Boy…saya pun jg pernah satu atap dengan mas Boy dan melakukan sindikasi program tsb.

tapi sayangnya sindikasi tsb bisa terwujud dengan bagus bisa pula gagal total, pengalaman saya di radio jaringan membuat saya sadar, bahwa acara tertentu blm tentu cocok dengan masing2 daerah, dan saya menyebut itu dengan ke “lokal”an, bisa jadi sukses ketika kontennya bagus dan penyiarnya lokal dan bisa membawakan dengan tepat acara tersebut, tetapi..sekali lagi konten bagus di kota A belum tentu bagus jg d kota B, apalagi kalo siarannya rellay! Saya bicara tentang kota Jogja, pendengar masih asing ketika yang siaran bukan penyiar lokal, walaupun yang siaran se tenar Dagienkz dan Desta tetapi bahasa yang mereka gunakan masih jauh dari kelokalan tersebut ( tp mungkin kota lain bisa menerimanya ) saya memang menggunakan patokan data Nielsen, walaupun banyak orang masih meragukan keabsahan Nielsen, tapi tetep jg digunakan sebagai parameter di luar jakarta..that’s why..saya saat ini masih menentang siaran rellay dalam bentuk apapun! hehehehehe…maap ya yg saat ini di program anda ada siaran rellay, ini cm pendapat pribadi saya..tapi jujur terkadang saya tidak berdaya ketika ada siaran rellay yg disponsori! hahahahaha….(namanya jg duit…)

Tetapi sekali lagi, kalo sindikasi program tersebut mampu dibawa ke lokalannya bisa jadi acara tersebut berhasil.
Terima kasih mas Boy…topik yang menarik.

Wassalam
Bonny 
 

Harley

 

Iya Mas Boy..

 

Beberapa fakta tetap membuktikan bahwa “Radio is Local Content” dan hal ini belum terpatahkan…Kreatifitas program sindikasi radio era-80-an atau 90-an mungkin masih banyak diminati radio-radio daerah di Indonesia. Tapi sekarang menjadi tantangan tersendiri kalau ingin booming seperti dulu . Seperti juga kita tahu “Needs & Wants” pendengar di masing-masing daerah akan sangat berbeda (Pakem kuno tapi masih tetap ampuh). Saran saya sih : “Secara konsep program utuh diseragamkan itu lebih baik dan  akan lebih baik lagi tingkat implentasinya percayakan pada radio daerah masing masing serta sesuai dengan karakter daerahnya “. Terlebih lebih program sindikasi recording, tidak ada gregetnya, karena radio juga dikenal sebagai medium interaksi antara radio dan pendengarnya.Akan lebih mengena mungkin program sindikasi yang melibatkan daerah secara langsung, ini mungkin jauh lebih menarik. Masalah ini sering saya sampaikan juga kepada pengelola radio networking, setiap saya mengelola radio unit member of network, bahwa daerah ya daerah, mereka kental dengan nuansa kedekatan psikologis antara radio dan kekhasan pendengarnya.

 

Tapi itu kembali kepada kebijakan perusahaan juga, menurut saya sih untuk sekarang ini dari pada mengejar efisiensi kos program tapi tidak efisien mending cari solusi lain, toh efisiensi kos program bukan yang utama tapi yang perlu di efisiensikan mungkin organisasinya ? Menurut saya  kalau dihitung efisiensi kos program daerah tidak terlalu signifikan dengan mengejar profit optimal. Harga SDM daerah khan masih jauh lebih murah dibanding dengan  SDM Ibukota dan system yang dibuat. Kalau saya sih mending SDM daerah di optimalkan dengan tujuan kemampuannya berkaliber nasional . Masih banyak SDM daerah yang berpotensi memiliki kemampuan kaliber Ibukota.

Harley Prayudha

Kusnendar Dadan

 

Bagus banget, tapi di tahun 90 an ada sponsor program recorded penyiarnya Tono Sebastian-Marlboro, wuih itu keren banget….saat ini belum ada lagi tuch yang nandingin……

 

Dicky

 

bagus sihh acaranya tetapi kesulitaanya tdk semua radio YANG MAU BEKERJA SAMA, karena memang masalah nya sepele yaitu DUIT dalam pembagian iklan slot nya, aku pernah sih dengan RCI dan asik sekali untuk konsep asli Indonesianya, dan setelah tdk ada kelanjutan yaa tidak apa2, karena yang ditawrakan kompensasinya juga bagus 70 : 30 untuk pembagian slot iklan jadi kita bebas cari iklan sendiri sebanyak 30 % dari jam tayang iklan , kemarin saya juga di tawrakan dengan MODEL yang sama oleh salah satu pecahan RCI dengan konsep yang sama , juga kerjasamanya, tetapi saya juga gak bisa menerima kerjasama tersebut berhub dengan DUIT juga yaitu saya mengganti ongkos kirim sebesar 150 rb perbulan padahal pengiriman dilakukan selama 4 kali dalam sebulan, klw saya lihat tdk logis aja deh, kita udah bagi enakan kita cuma 30 % ploting ehh malah dimintain lagi untuk ONGKIR, yaaa, maaf kita tdk bisa, klw mau bener2 hitungan harusna kita 70% dan sindikasinya 30 % hahahahahahaha,bener kerjasamany model sindikasi itu asik tetapi kembali masalah DUIT, dan juga klw pun sindikasi harus yang lebih general konsep acaranya karena kultur radio yang nantinya di ajak kerjasama juga berbeda2 maka harus lebih enakan, heheheheh, apali berkaiatan dengan sekitar kita, budaya kita, dan juga habit kita sebagi RAKYAT INDONESIA, heheh saya siap menerima konsep sindikasi ASALKAN PEMBAGIAN SLOT IKLAN SANGTLAH JELAS dan SAMA SAMA MENGUNTUNGKAN>heheheheheheheheh, kok malah jurhat yaaa, hahaha
DICky

 

Anda punya komentar lain?

 

Radio FaMale Jakarta akhirnya memperoleh Cakram award untuk katagori stasiun radio. Cakram Award memang merupakan sebuah prestasi bergengsi bagi kalangan media, termasuk media radio.

Award ini memiliki berbagai katagori, antara lain:  Insan Media, Iklan Cetak, Pemasar Griya Produksi, Pembina Usaha Griya Pasca Produksi, Pengarah Kreatif Perusahaan Kehumasan, Agency of the year billing > Rp 100 M, TV Lokal, Agency of the year billing < Rp 100 M,  TV Nasional, Majalah, Koran Lokal, Tabloid,  Koran Nasional, Radio Agensi Lini Bawah, Iklan Televisi  dan  Lifetime Achievement.

Selamat! Khususnya buat team Radio FeMale atas prestasinya. Untuk yang stasiun radio yang belum beruntung tahun ini, mudah-mudahan kesempatan akan terbuka di tahun berikutnya.

Moga pemberian award ini memberikan gairah baru bagi dunia penyiaran untuk terus berkerasi tanpa henti!

Ini email yang saya terima dari Iwoch, GM radio FeMale Jakarta yang juga membawahi Delta FM dan Prambors Jakarta tentang Cakram Award ini. 

2008/5/26 Imansyah (Iwoch)* :
> All,
>
> Berkat kerja keras dari kawan2x semua, alhamdulillah pada malam penghargaan
> Cakram Award Sabtu (24/5), Masima, menerima 2 penghargaan yakni
> Pengelola Stasiun Terbaik (Diraih FeMale Radio) dan Karya Iklan Non
> Komersial/PSA Terbaik (Prambors Rasisonia).
>
> Thanks untuk kawan2x semua atas kerja kerasnya selama ini..
>
> Fyi, untuk katagori pengelola stasiun untuk katagori pengelola stasiun
> nominee-nya adalah GenFM, FeMale Radio & Hardrock FM. Menurut juri, FeMale
> berhasil mengungguli GenFM (yang pada awalnya dijagokan) karena FeMale
> ‘muncul’ dengan Greenfestnya..
>
> Sedangkan untuk katagori PSA ada hal unik karena Prambors bersaing dengan
> JGC yang termasuk sbg nominee di katagori PSA ini. Terlepas bahwa Prambors
> yang akhirnya memenangkannya, tapi ternyata program JGC kita cukup punya
> ‘gaung’ juga. Tinggal terus kita bunyikan agar bisa tambah oke..
>
> Sekali lagi, thanks untuk kerja keras kawan2x semua selama ini, semoga
> penghargaan ini bisa terus memotivasi kita untuk berkarya lebih baik lagi di
> masa mendatang..
>
> Salam,
>
> /Iwoch