Radio dan Starbuck!
July 29, 2008
Beberapa hari lalu menyaksikan di sebuah televisi swasta sebuah film dokumenter tentang sepak terjang Starbuck sebagai sebuah brand sukses.
Ternyata, Starbuck nggak hanya sekedar ‘menjual’ kopi dengan segala variannya yang menarik.
Starbuck juga telah menjadi “toko” kelontong alat berkait kopi, memproduksi album musik bahkan merilis sebuah film!
Kecenderungan brand dan korporat menjadi “distributor” memang menggejala beberapa tahun terakhir. Di dalam negeri, kita tahu ada resto fast food macam KFC yang ternyata menjual juga CD album kompilasi. Pertamina kini memanfaatkan betul minimart yang ada di SPBUnya sebagai revenue baru, disamping menjual space SPBU untuk billboard, neon sign dan sebagainya.
Ketatnya persaingan dan krisi mungkin membuat beberapa brand dan korporat makin kreatif mencari peluang apapun untuk menghasilkan uang!
Radio, saya rasa sudah melakukan hal itu lebih dulu. Walau dengan pola yang agak beda, misalnya menjual Susu Kuda Liar atau barang-barang lainnya dengan memanfaatkan space idlenya. Hari ini, bagi sebagian besar radio, hanya mengandalkan penjualan spot dan program on air tentu bisa menjadi awal dari bencana (Wah syerem amat sih! hehehe…). Dan kini rasanya mulai banyak radio yang menikmati posisinya bukan hanya sebagai institusi penyiaran tapi sekaligus sebagai EO untuk melayani maraknya activation di Indonesia. Iya kan?
Rasanya, paling ngga menurut saya yang masih miskin pengalaman ini, radio punya peluang besar untuk juga berpuran sebagai channel distribusi apapun! Bukan hanya sekedar susu kuda liar, tapi juga barang lainnya yang mungkin. Apalagi dengan fungsinya sebagai media yang memiliki kekuatan promosi secara mandiri.
Tentu asal tidak menganggu kegiatan utama sebagai lembaga penyiaran, boleh dong mengambil peluang seperti ini di zaman “sulit” seperti saat ini.
Masima Radionet, saat ini sedang merintis ini untuk dijajaki di dunia radio kita. Ada beberapa produk yang menyatakan bersedia mencoba untuk mencoba cara ini.
Siapa tahu, bisa juga memberikan darah segar baru bagi industri kita. Iya kan?
Sekedar melontarkan remah pemikiran yang mungkin ngggak terlalu penting.
Bagaimana menurut Anda?
Salam semangat!
====
Komentar dari milis Praktisi Radio:
Patrick Jo:
Mas Boy Hamidy, salam kenal..
bicara tentang fungsi media radio dalam konteks “pengembangan” potensi income, jelas keberadaan Radionet sebagai pengembangan usaha dari jaringan prambors group sudah menjadi contoh nyata bagaimana radio adalah sebuah “satelit” dari berbagai bentuk kegiatan usaha yang bisa dikembangkan.. Dengan karakteristiknya sebagai sebuah medium lokal yang efektif masuk kedalam pola hidup pendengarnya maka radio harus mampu “mengendus” kebutuhan2 pendengarnya melalui program2 interaktif yang efektif dan tidak hanya melulu digunakan untuk minta lagu atau “sekedar” ngobrol diudara…
“Arisan FeMale” adalah bentuk nyata dari contoh “income tambahan” bagi JDFI akibat dari sebuah hasil “endusan” interaksi yg selama ini terjadi antara FeMale dengan pendengar2 wanitanya yg selama ini terjadi….
Jadi saya sangat setuju bahwa potensi itu sbenarnya sudah ada sebagai karakteristik medium radio itu sendiri… Radio sebagai media masa dan sebagai sarana promosi, adalah “mesin serbaguna” untuk membentuk berbagai potensi usaha lain dalam berbagai bentuk….
Thanks,
Patrick Jo.
Bonny Prasetya:
Setuju Mas Boy…
Memang kayaknya industri radio saat ini harus berpikir keras untuk mendapatkan sesuatu yang lebih, kita “seharusnya” gak cukup puas dengan hasil yang sekarang dimiliki, menjual airtime, jualan program dll, tetapi memang harus punya ide kreatif untuk bisa memperoleh hasil yg maksimal, di radio tempat saya bekerja skrg pun sudah mulai dirintis beberapa unit usaha yang kita harapkan bisa memberikan pemasukan yang lumayan.
Orang yang berjiwa bisnis pasti punya pemikiran yang dahsyat lagi, ketika satu usaha sukses dia akan melirik unit usaha baru lagi, begitu seterusnya…
Awan Putra:
Di Tempat saya bekerja, memiliki dua buah station radio yang berbeda segmennya, satu ke business satu ke budaya, selain itu kami juga mencari pemasukan lain dengan adanya event organizer yang cukup membantu juga, pada kesempatan event amild live soundrenaline ini, kesempatan yang cukup bagus juga karena kami di percaya untuk bisa menjadi mobile pre event a mild live soundrenaline di jogja, dengan dua buah mobil ob van yang cukup membantu juga untuk mendapatkan income tambahan bagi sebuah station radio. Dengan persaingan ketat juga radio radio di kota solo, sehingga memang membuat sebuah station radio juga harus berjuang keras untuk dapat berjuang keras mencari pemasukan lewat iklan atau income dari event yang lain. Boleh juga termasuk sebagai distributor barang barang yang selama itu mampu dijual dan di promokan oleh radio itu sendiri.
Rika Verry Kurniawan
Staff Produksi & Creative Program
107.3 Radio karavan FM & 104 Jimbaran FM
Jalan M.H. Thamrin No.11
Manahan, Solo
Jawa Tengah 57139
Om Jeff:
Terlepas bahwa subjek ini (bisa jadi) merupakan prolog ‘dagangan’nya Oom Boy untuk kepentingan salahsatu provider, maka yang menjadi esensial adalah kita tidak pernah mendapatkan esensi dari subjek ini sehingga kadangkala - cilakanya! - terjebak menjadi plagiator dengan nafas yang tersengal-sengal dikemudian hari.
Dalam hal ini saya cuma mencoba membawa makna kata ‘peluang’ menjadi lebih realistis. Lalu bagaimana realistisnya?
Semoga Oom Boy dapat memberikan tips dan kiat-kiatnya disini. Siapa tahu dengan tips tsb akan memberikan inspirasi lebih kepada rekan-rekan disini sehingga misnya tidak timbul asal bikin mirip arisan female saja.
Salam,
Jeff.
Sharing Sindikasi Program
July 10, 2008
Sekedar berbagi,
Salah satu problem operasional semua radio adalah menyediakan konten yang berkualitas untuk mengisi siarannya. Untuk mewujudkan program, tentu nggak gratis alias ada cost.
Kenapa ya radio yang memiliki segmen sama tidak memanfaatkan program (terutama yang recorded) yang sudah ada di kota lain untuk disharing. Dengan demikian tentu biaya akan bisa ditekan. Bahkan, dengan pola sindikasi, bisa saja rerun program tersebut menjadi peluang baru jika disertai pengiklan baru (tentu dengan “formulasi harga” baru juga hehehe..)
Acara recorded baik yang hanya beberapa kali pakai/idle dari sebuah radio di medan, bandung, semarang atau Makassar misalnya, rasanya sayang banggeeet deh jika hanya digunakan hanya sekali pakai. Nggak ada salahnya, dengan sedikit mengedit, konten tersebut di pakai lagi oleh, misalnya: radio padang, radio bima, radio cilacap dsb.
Bukankah dengan demikian akan ada win-win solution dan penghematan luar biasa untuk biaya program per radio?
Lupakan gengsi per brand, asal program tersebut terdengar oke rasanya oke juga untuk siaran. Iya ngga?
Kalau saja saya punya beberapa radio, rasanya saya mau banget mengisi program dengan cara seperti itu. Walau harus tetap menjaga kompoisisnya hingga nggak punya karakter lokal sama sekali. hehehe..
Bagaimana menurut rekan-rekan pemerhati radio tercinta?
Sekedar pemikiran.
Kebetulan saya bertugas mengumpulkan dan menginventarisir program-program idle ini untuk “dimanfaatkan ulang”. Kali aza ada rekan-rekan yang punya list program bagus yang rasanya layak sindikasi? Kami sedang merintis apa yang disebut sebagai “Market Place” Sindikasi Program. Mau?
Salam Semangat!
Tetap Optimis!
***
DISKUSI (via milis FDR)
Berikut beberapa masukan tentang topik ini via milis FDR. Selamat menyimak dan berkomentar:
Jeff
Boy,
hal serupa pernah saya jalankan sewaktu saya masih berkiprah di tempat
anda ini beberapa tahun yang lalu. Kendalanya tetap ada dan bukan hanya
masalah cost semata. Segment boleh sama tapi gaya sangat berbeda karena
radio di negeri khatulistiwa ini sangat kaya akan varian, sama kayanya
dengan budaya dan bahasanya. Sekedar input bhw pengiklan saat ini justru
lebih ingin ‘menyasar’ ke lokalan tsb, bukan universal karena untuk hal
yang universal alias mass (masal), pengiklan lebih suka bermain di
televisi.
Salam,
Bonny
Dear All..
Sebenarnya menarik usulan mas Boy…saya pun jg pernah satu atap dengan mas Boy dan melakukan sindikasi program tsb.
tapi sayangnya sindikasi tsb bisa terwujud dengan bagus bisa pula gagal total, pengalaman saya di radio jaringan membuat saya sadar, bahwa acara tertentu blm tentu cocok dengan masing2 daerah, dan saya menyebut itu dengan ke “lokal”an, bisa jadi sukses ketika kontennya bagus dan penyiarnya lokal dan bisa membawakan dengan tepat acara tersebut, tetapi..sekali lagi konten bagus di kota A belum tentu bagus jg d kota B, apalagi kalo siarannya rellay! Saya bicara tentang kota Jogja, pendengar masih asing ketika yang siaran bukan penyiar lokal, walaupun yang siaran se tenar Dagienkz dan Desta tetapi bahasa yang mereka gunakan masih jauh dari kelokalan tersebut ( tp mungkin kota lain bisa menerimanya ) saya memang menggunakan patokan data Nielsen, walaupun banyak orang masih meragukan keabsahan Nielsen, tapi tetep jg digunakan sebagai parameter di luar jakarta..that’s why..saya saat ini masih menentang siaran rellay dalam bentuk apapun! hehehehehe…maap ya yg saat ini di program anda ada siaran rellay, ini cm pendapat pribadi saya..tapi jujur terkadang saya tidak berdaya ketika ada siaran rellay yg disponsori! hahahahaha….(namanya jg duit…)
Tetapi sekali lagi, kalo sindikasi program tersebut mampu dibawa ke lokalannya bisa jadi acara tersebut berhasil.
Terima kasih mas Boy…topik yang menarik.
Wassalam
Bonny
Harley
Iya Mas Boy..
Beberapa fakta tetap membuktikan bahwa “Radio is Local Content” dan hal ini belum terpatahkan…Kreatifitas program sindikasi radio era-80-an atau 90-an mungkin masih banyak diminati radio-radio daerah di Indonesia. Tapi sekarang menjadi tantangan tersendiri kalau ingin booming seperti dulu . Seperti juga kita tahu “Needs & Wants” pendengar di masing-masing daerah akan sangat berbeda (Pakem kuno tapi masih tetap ampuh). Saran saya sih : “Secara konsep program utuh diseragamkan itu lebih baik dan akan lebih baik lagi tingkat implentasinya percayakan pada radio daerah masing masing serta sesuai dengan karakter daerahnya “. Terlebih lebih program sindikasi recording, tidak ada gregetnya, karena radio juga dikenal sebagai medium interaksi antara radio dan pendengarnya.Akan lebih mengena mungkin program sindikasi yang melibatkan daerah secara langsung, ini mungkin jauh lebih menarik. Masalah ini sering saya sampaikan juga kepada pengelola radio networking, setiap saya mengelola radio unit member of network, bahwa daerah ya daerah, mereka kental dengan nuansa kedekatan psikologis antara radio dan kekhasan pendengarnya.
Tapi itu kembali kepada kebijakan perusahaan juga, menurut saya sih untuk sekarang ini dari pada mengejar efisiensi kos program tapi tidak efisien mending cari solusi lain, toh efisiensi kos program bukan yang utama tapi yang perlu di efisiensikan mungkin organisasinya ? Menurut saya kalau dihitung efisiensi kos program daerah tidak terlalu signifikan dengan mengejar profit optimal. Harga SDM daerah khan masih jauh lebih murah dibanding dengan SDM Ibukota dan system yang dibuat. Kalau saya sih mending SDM daerah di optimalkan dengan tujuan kemampuannya berkaliber nasional . Masih banyak SDM daerah yang berpotensi memiliki kemampuan kaliber Ibukota.
Harley Prayudha
Kusnendar Dadan
Bagus banget, tapi di tahun 90 an ada sponsor program recorded penyiarnya Tono Sebastian-Marlboro, wuih itu keren banget….saat ini belum ada lagi tuch yang nandingin……
Dicky
bagus sihh acaranya tetapi kesulitaanya tdk semua radio YANG MAU BEKERJA SAMA, karena memang masalah nya sepele yaitu DUIT dalam pembagian iklan slot nya, aku pernah sih dengan RCI dan asik sekali untuk konsep asli Indonesianya, dan setelah tdk ada kelanjutan yaa tidak apa2, karena yang ditawrakan kompensasinya juga bagus 70 : 30 untuk pembagian slot iklan jadi kita bebas cari iklan sendiri sebanyak 30 % dari jam tayang iklan , kemarin saya juga di tawrakan dengan MODEL yang sama oleh salah satu pecahan RCI dengan konsep yang sama , juga kerjasamanya, tetapi saya juga gak bisa menerima kerjasama tersebut berhub dengan DUIT juga yaitu saya mengganti ongkos kirim sebesar 150 rb perbulan padahal pengiriman dilakukan selama 4 kali dalam sebulan, klw saya lihat tdk logis aja deh, kita udah bagi enakan kita cuma 30 % ploting ehh malah dimintain lagi untuk ONGKIR, yaaa, maaf kita tdk bisa, klw mau bener2 hitungan harusna kita 70% dan sindikasinya 30 % hahahahahahaha,bener kerjasamany model sindikasi itu asik tetapi kembali masalah DUIT, dan juga klw pun sindikasi harus yang lebih general konsep acaranya karena kultur radio yang nantinya di ajak kerjasama juga berbeda2 maka harus lebih enakan, heheheheh, apali berkaiatan dengan sekitar kita, budaya kita, dan juga habit kita sebagi RAKYAT INDONESIA, heheh saya siap menerima konsep sindikasi ASALKAN PEMBAGIAN SLOT IKLAN SANGTLAH JELAS dan SAMA SAMA MENGUNTUNGKAN>heheheheheheheheh, kok malah jurhat yaaa, hahaha
DICky
Anda punya komentar lain?
Cakram Award untuk Radio FeMale
May 27, 2008
Radio FaMale Jakarta akhirnya memperoleh Cakram award untuk katagori stasiun radio. Cakram Award memang merupakan sebuah prestasi bergengsi bagi kalangan media, termasuk media radio.
Award ini memiliki berbagai katagori, antara lain: Insan Media
Iklan Cetak, Pemasar Griya Produksi, Pembina Usaha Griya Pasca Produksi, Pengarah Kreatif Perusahaan Kehumasan, Agency of the year billing > Rp 100 M, TV Lokal, Agency of the year billing < Rp 100 M, TV Nasional, Majalah, Koran Lokal, Tabloid, Koran Nasional, Radio Agensi Lini Bawah, Iklan Televisi dan Lifetime Achievement.
Selamat! Khususnya buat team Radio FeMale atas prestasinya. Untuk yang stasiun radio yang belum beruntung tahun ini, mudah-mudahan kesempatan akan terbuka di tahun berikutnya.
Moga pemberian award ini memberikan gairah baru bagi dunia penyiaran untuk terus berkerasi tanpa henti!
Ini email yang saya terima dari Iwoch, GM radio FeMale Jakarta yang juga membawahi Delta FM dan Prambors Jakarta tentang Cakram Award ini.
2008/5/26 Imansyah (Iwoch)* :
> All,
>
> Berkat kerja keras dari kawan2x semua, alhamdulillah pada malam penghargaan
> Cakram Award Sabtu (24/5), Masima, menerima 2 penghargaan yakni
> Pengelola Stasiun Terbaik (Diraih FeMale Radio) dan Karya Iklan Non
> Komersial/PSA Terbaik (Prambors Rasisonia).
>
> Thanks untuk kawan2x semua atas kerja kerasnya selama ini..
>
> Fyi, untuk katagori pengelola stasiun untuk katagori pengelola stasiun
> nominee-nya adalah GenFM, FeMale Radio & Hardrock FM. Menurut juri, FeMale
> berhasil mengungguli GenFM (yang pada awalnya dijagokan) karena FeMale
> ‘muncul’ dengan Greenfestnya..
>
> Sedangkan untuk katagori PSA ada hal unik karena Prambors bersaing dengan
> JGC yang termasuk sbg nominee di katagori PSA ini. Terlepas bahwa Prambors
> yang akhirnya memenangkannya, tapi ternyata program JGC kita cukup punya
> ‘gaung’ juga. Tinggal terus kita bunyikan agar bisa tambah oke..
>
> Sekali lagi, thanks untuk kerja keras kawan2x semua selama ini, semoga
> penghargaan ini bisa terus memotivasi kita untuk berkarya lebih baik lagi di
> masa mendatang..
>
> Salam,
>
> /Iwoch
Fenomena Gen FM
December 14, 2007
Luar biasa!
Rasanya itu kata yang tepat untuk menggambarkan kemunculan Gen FM di Indonesia. Pasti beberapa teman-teman punya pikiran yang sama dengan saya. Bayangkan saja, kemunculannya bukan saja membetot perhatian pendengar, tapi juga memalingkan pandangan para pengiklan! Dahsyat kan!
Gen FM secara pasti menjadi radio bersama pilihan para operator area publik, dari mall-mall, lokasi hiburan, mini market sampai gardu tol yang bertebaran di Jakarta. Gen radio adalah sebuah fenomena, sejauh pengetahuan saya yang terbatas, jarang sekali radio yang bisa mendatangkan sekaligus pendengar dan pengiklan saat kemunculannya.
Dengan format musik serta pola siaran yang dipilihnya, plus pola pemutaran iklan yang khusus, Gen FM kini berada di bawah sinaran lampu sorot dunia radio di Indonesia. Terlalu bombastis kali. Tapi ya begitu realitasnya!
Kemunculan fenomena Gen FM menimbulkan sebuah pertanyaan, apakah perlu sebuah campur tangan PMA untuk membangun sebuah radio yang bernas di Indonesia? Kemanakah para broadcaster kita? Gen FM tepat menyasar pasar konon dengan diawali sebuah survey saat menentukan sebuah format. Sebuah pilihan yang memang logis tapi kadang ‘lupa’ dilakukan insan radio di Indonesia.
Punya pendapat tentang fenomena ini?
Penyiar yang Good good good.
December 11, 2007
Isu yang sering dan selalu ditanyakan ketika sekumpulan orang radio berkumpul biasanya selalu sama. Dan yang paling sering rasanya adalah membahas bagaimana sih penyiar yang baik itu?
Dan itu pun terjadi di milis praktisi radio!
Seorang miliser mas R. DjOkO iNdrA SatriAwAn menulis posting sebagai berikut:
..FriEnds, mnUruT Lo aNNouNcer yG bGus tUh yG seSuai keiNginan mnJmeN
aTo ListEneR??? tHanKs yAh…
Lalu muncul lah berbagai uraian dari para praktisi radio yang berkumpul di milis ini.
Misalnya Mba Puspitawangi yang langsung menjawab tepat 10 menit setelah thread ini muncul dengan pernyataan berikut:
Halo mas,Urun rembug ya, menurut saya..announcer yang bagus, yang bagus loh ya, adalah yang bisa “mengawinkan” antara 2 tuntutan itu. Sehingga dia bisa disukai sebagian besar pendengar (bukan hanya sekelompok saja) dan biasanya akan menjadi “benar” di mata menejemen, karena salah satu tuntutan menejemen kepada penyiar kan supaya bisa meraih sebanyak-banyaknya pendengar, bukankah begitu ?
Nah seru kan!
Selanjutnya keluarlah pendapat Tika tentang penyiar yang Good… good… good.
Good announcer equals:
1. Great SMS responds
2. Great [Radio Advisor] ratings
3. Great revenue
Tika bilang lebih jauh: Yang bingung adalah, kalo SMS banyak [naik], tapi Radio Advisor gak bagus [turun]. Hehehe…makanya, jangan percaya sama Nielsen. Percayalah sama Tuhan dan hati nurani!
Buat yang punya online streaming, malah lebih canggih lagi. ‘Rapor’ penyiar bisa diukur secara pasti.
“Ratings [a.k.a Radio Advisor] are called metrics in online streaming. Ratings are ESTIMATES, but metrics are EXACT! You can see PRECISELY HOW MANY people are LISTENING and WHEN they listened.” – Radio Ink, September 17, 2007.
Buat saya, 3 great itu sudah cukup komprehensif. Namun rasanya ada yang kurang kalo nggak ditambah satu satu lagi.
Imho. Kalo boleh ditambah satu great lagi:
* Great (content) Value Maksudnya bagaimana sang penyiar juga bisa delivery nilai yang baik untuk kemanusiaan. Maksudnya bukan semata yang berkait dengan Yand Di Atas. Tapi tentang nilai-nilai universal seperti kejujuran, kritis, keberanian, positif thinking dan sejenisnya.
Debatable sih. Hehehe.
Tapi kayaknya kalo cuma tiga kesannya terlalu dagang abiiiz.Memang ini bisa diukur dengan dua great pertama. Tapi kalo nggak ditaroh, akan sama aja antara siaran yang penuh eksploitasi sex, atau kekerasan misalnya, asal dia responnya great dan advisornya great selesai sudah. Iya ngga?
Tapi, rupanya konsep yang benar untuk great yang ini menurut Tika ada pada kata PERSONALITY!Kurang lebih Tika bilang begini: Oh iya, sorry nih, takut jadi rancu, kayaknya saya salah menjabarkan good announcer dengan “great” yang saya sebut sebelumnya. Great2 itu maksud saya adalah indicator hasil akhir aja untuk seorang good announcer. Maap yaa… ^_^
Tapi gimana caranya merintis mendapatkan great-great itu, ini saya contek dari buku “The Program Director’s Handbook”, hanya satu kata: PERSONALITY. Jabarannya: [saya gak terjemahin ya, abis sering kali bahasa Indonesia itu jadi gak enak kalo udah diterjemahin!] Personality on the radio is the expression on the air OF your personality.1. Personality does not equal talk. Sometimes it’s what you DON’T say that’s important. 2. Personality might mean warmth, humanity and believability. The laugh, the comments could make you sound human and believable. 3. Personality demands concentration and preparation. [write, edit, re-write, get some feedback… or leave it out!]. 4. Personality means knowing when to be “on” and when and how to get “off”. [capek kaliii denger orang ngomoooongg mulu’]. 5. Personality in radio means never losing concern for the audience. Who are they? What do they want? What are their needs? You RELATING to them, is what it’s all about. 6. Personality means knowing YOURSELF. Consistency is a major element of projecting personality. [maksudnya jangan moody]Personality ini berlaku bukan hanya untuk penyiar, tapi juga untuk program radio secara keseluruhan.Juga ada komentar yang menarik dari Mas Benedik Agung yang menariku untuk dikutip:
Setuju…Setuju…Setuju banget sama yg dibilang mbak kartika.
Ditambah sama yg penyiar sok terkenal…sok laku…..hahahahahahahahaha……padahal nggak terlalu banyak kontribusinya buat radio.
Buat saya penyiar yang mau manut…dan merasa dirinya “harus” slalu belajar itulah penyiar yang bagus.
Sbab matinya penyiar adalah ketika ia merasa pintar.krn tdk ada lagi keinginan untuk mengeksplorasi kompetensi dan potensi pada dirinya.
Sementara Pati Perkasa mengusulkan satu poin lagi dalam kriteria Penyiar yang Good yaitu Great Attitude. Mas Bef bilang kalau attitude itu memang tuntutan untuk semua bagian di radio. Tapi karena kita sedang bicara penyiar, menurut Pati ya ini memang ditekenin kepada penyiar. Seperti kata pameo: Attitude menentukan altitude katanya. Hehehe…
Seru ya!
Wacana penyiar yang good memang nggak bakalan habis dibicarakan sampai dunia radio kiamat. Apalagi penyiar yang bagus (walau merupakan elemen penting) merupakan sebagian dari elemen terbentuknya radio yang good juga.
Tapi, buat saya, penyiar yang good itu ya tetep: Nuim Khaiyath. Halah! Maksa banget ya. Hehehe
Haloo, Orang Radio Bersatu dong ah!
December 11, 2007
Salah satu stigma yang ditujukan pada ‘orang radio’ di indonesia adalah nggak kompak. Kok bisa? Iya lah. Yang paling ketara banget adalah ketika orang radio saling menurunkan harga iklan agar bisa memperoleh billing dari klien. Betulkan? Hehehe.
Tapi, sekarang mudah-mudahan stigma itu tak berlaku lagi. Nampaknya sudah muncul satu kesadaran bersama bahwa entitas radio di Indonesia harus memulai memperbaiki dari dirinya sendiri jika ingin terus berbenah. Dan itu hanya bisa dilakukan dengan bersatunya orang radio, para praktisi radio di Indonesia.
Banyak cara menuju Roma katanya. Dan salah satu caranya seperti yang diprakarsai oleh Harley Prayudha untuk membuat sebuah milis yang hidup dengan anggota para praktisi radio di Indonesia. Milis ini bisa diakses dengan mendaftar ke alamat: praktisiradio-subscribe@yahoogroups.com
Semangatnya adalah kebersamaan, saling berbagi dan saling memberi untuk kemajuan dunia radio di Indonesia. Hari ini memang bukan saatnya lagi untuk semata mengedepankan kompetisi.
Beragam praktisi dengan beragam latar dan perusahaan radio telah bergabung di milis ini. Dari yang single station sampai yang berjaringan. Dari yang masih ijo seperti saya hingga yang udah mateng puun kayak Kang Harley. Hahaha..
Loh? apa ngga takut kalo ilmunya dicuri? Kata para anggotanya sih kompak: “Yaa nggak lah!” Biasanya sih, kalo ilmu dicuri itu tak semakin berkurang, tapi semakin bertambah.
Selamat berdiskusi untuk perbaikan dunia radio Indonesia! Tetap Semangat!
Haloo, orang radio bersatu dong ah!
Maestro from Gang Bengkok
December 9, 2007

“Assalamu’alaikum wr wb, apa kabarrr! …. Kalau ada matahari jangan lupa jemur tilam dan bantal. Hati-hati dijalan. Kalau terlanggar beca, nayahlah badan!”
Cerocosan itu terdengar bersamangat. Penuh energi dan membangun jiwa. Nuim Khaiyath namanya. Seorang master penyiaran Indonesia yang sederhana asli dari Gang Bengkok, Medan. Sampai hari ini, saya belum menemukan bandingan yang sesuai dengan penggemar sayur nangka ini.
Saya banyak belajar dari Nuim Khaiyath. Terutama ketika menjadi ‘keneknya’ saat Bang Nuim, begitu dia biasa kami sapa, berdinas di Delta FM.
Ini kutipan tentang sosoknya dari wikipedia:
Nuim Khaiyath (nama lengkapnya:Nuim Mahmud Khaiyath) adalah seorang penyiar senior kelahiran Medan, Indonesia yang saat ini berdomisili di Melbourne, Australia. Dia saat ini menjadi Kepala Siaran Bahasa Indonesia di Radio Australia. Nuim Khaiyath memulai karirnya di bidang jurnalistik pada 1964 dengan bekerja di BBC’S Indonesian Service yang berpusat di London selama tiga tahun. Ia kemudian bergabung dengan Radio Australia Siaran Bahasa Indonesia (RASI) sejak 1967-1970. Pada 1970 ia pindah ke BBC London .
Dua tahun kemudian (1972) ia kembali lagi ke RASI, dan sejak tahun 1998 ia dipercaya untuk memimpin RASI. Ia populer dengan acara Sabtu Gembira (SAMBA), yang dibawakan dengan logat Melayu Medan .Acara tersebut disiarkan pula oleh Radio Delta FM setiap hari Sabtu pagi . Selain itu dia juga tampil dalam siaran Radio Ramako FM setiap Senin pagi dalam acara Poros Jakarta Melbourne. Acara lain yang diasuhnya di RASI adalah PERSPEKTIF, dan Dunia Olahraga. Aktifitas rutin yang dilakukannya diluar siaran radio adalah berenang dan membaca.
Saya merasa bangga bisa belajar banyak dari Abang yang berperawakan atletis in. Walau masih banyak yang harus saya pelajari kalau mau meneybut diri sebagai muridnya. Walau murid paling bodoh sekalipun! Hehehe…